Dimuat di Jawa Pos Radar Mojokerto, 16 Desember 2018 |
Judul : TJAP
Jenis
Buku : Fiksi
Penulis : Yuditeha
ISBN : 978-602-5783-37-1
Tahun
terbit : Oktober 2018
Tebal : 216 halaman
Penerbit : Basabasi
Bisa saja sejarah-sejarah yang tidak terungkap dalam buku
sejarah, dapat dibuka dalam sebuah novel. Meski berselimut fiksi, tapi hal-hal
yang nyata pernah terjadi dapat dikatakan secara jelas dalam karya sastra
berupa novel.
Seperti halnya novel karya Yuditeha, “tjap” ini. Sejarah
pergerakan organisasi perempuan “Gerwani” pada tahun 1965 dikupas dengan latar
hubungan emosional antara ibu dan anak perempuannya.
Cara bertutur dan novel yang minim dialog kecuali pada
prolog dan pada ending, mulai masuk ke cerita setelah prolog selesai. Pembaca
diajak “tjap” untuk menelusuri hari demi hari di September hingga Oktober 1965
dari sebuah diari.
Novel ini bermula dari seorang yang ingin membeli rumah
di Madiun. Dia menemukan sebuah diari yang menarik hatinya di sebuah lemari. Ia
kemudian membaca diari itu halaman-demi halaman.
Dalam novel yang ditulis oleh penulis yang berkali-kali
menjadi pemenang dalam berbagai sayembara kepenulisan ini, seringkali terselip
jejak-jejak sejarah yang luput dari buku pelajaran sekolah. Secara umum kita
tahu bahwa Gerwani adalah organisasi perempuan milik PKI. Padahal pada awalnya
Gerwani adalah organisasi yang berbiri sendiri, lepas dari PKI. Kemudian pada
tanggal 8 September 1965 (hal. 49) baru rencana afiliasi Gerwani dengan komunis
(PKI). Alasan Gerwani bersedia berafiliasi dengan PKI ini adalah kesamaan
program. Demikian juga dengan organisasi lain yang pada awalnya berdiri sendiri
dan bukan bentukan PKI, seperti: Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, Lekra
dan Himpunan Sarjana Indonesia (hal. 118)
Meski Gerwani adalah organisasi perempuan, namun Gerwani
juga dibekali latihan fisik dan olah kanuragan. Hal ini terungkap dalam diari
Pertiwi (tokoh yang menulis diari di novel “tjap”) pada 5 September 1965 di
Jakarta.
Pada pemberontakan 30 September 1965 oleh PKI, mau tidak
mau Gerwani juga tersangkut dalam hal ini. Meskipun begitu bukan berarti
Gerwani menyetujui gerakan ini karena tidak mungkin bagi Gerwani untuk
melakukan pemberontakan terhadap negara dan menganggap tindakan PKI ini terlalu
tergesa-gesa (hal. 181).
“Tjap” dalam balutan sejarah ini bisa dikatakan
sebenarnya adalah sebuah roman. Hubungan emosional antara seorang anak dengan
ibunyalah yang menjadi selimut bagi perjuangan Gerwani. Seorang Pertiwi adalah
anak dari seorang laki-laki anggota PKI yang pada 1948 ikut tewas terbunuh
gerakan yang mereka sebut perjuangan. Ibu Pertiwi tentu mewanti-wanti agar
Pertiwi tidak ikut terjerumus dalam organisasi serupa. Di sinilah hubungan
antara ibu dan anak tersebut diukir dalam sebuah diari.
Yuditeha sebagai penulis rupanya cukup lihai memilih
celah yang lebih lembut untuk mengatakan “kedurhakaan” anak yang tidak menuruti
keinginan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari Gerwani melalui sebuah diari.
Meskipun begitu, sebagai anak, sang tokoh tetap menghormati ibunya. Pembaca
mengetahui hal itu dan konflik-konflik lain melalui diari yang dibaca.
Meskipun ini cukup memiliki risiko, sebab bisa jadi ada
pembaca yang bosan, karena sebagian besar adegan berbentuk narasi. Namun sang
penulis rupanya telah menyimpan ending
yang tak terduga dalam novel ini untuk mengobati rasa bosan dalam
membalik-balik halaman diari.
Sebagai novel, “tjap” bisa dikatakan memiliki sudut
pandang yang unik. Sebab dikemas dalam bentuk buku harian. Namun dengan isi
yang padat, penuh konflik baik antara ibu dan anak ataupun antara Gerwani dan
Pemerintah. Selain itu dalam ‘tjap” juga menyisipkan sejarah-sejarah yang
sebagaian belum diketahui oleh publik.
Penulis
Resensi :
Danang
Febriansyah, resensi dan
cerpennya telah dimuat dalam berbagai media massa. Belajar menulis di FLP Solo,
Sastra Alit Solo dan #KampusFiksi Jogja. Buku kumpulan puisinya terbit Agustus
2018 dengan judul “Hujan Turun di Desa”. Kini tergabung dalam FLP Wonogiri dan
Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kab. Wonogiri.
No comments:
Post a Comment