Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Saturday, December 28, 2019

Ia yang Menjelma Bunga Matahari



Cerpen Danang Febriansyah

ditayangkan pada 25 November 2019 di: https://magrib.id/2019/11/25/ia-yang-menjelma-bunga-matahari/

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.
Pohon-pohon berakar serabut banyak yang tumbang. Angin dan hujan badai seakan bersekongkol memporak-porandakan perdesaan itu. Di sebuah halaman rumah tembok di lereng bukit, sebuah bunga matahari tetap tegar berdiri. Tidak goyah oleh angin, hanya basah oleh hujan. Meski juga berakar serabut.
Ia di sana, sebab sebuah cerita.
***
Seharian wanita itu hanya berdiri di halaman depan rumahnya. Sesekali menatap jam di telepon genggamnya. Pun ia menunggu kabar dari suaminya yang belum juga pulang sampai senja mulai menyala.
Dihyan, wanita itu sebenarnya tahu tentang suaminya, Niscala. Banyak teman yang mengabarkan apa yang dilakukan suaminya di luar rumah. Kabar yang telah ia alami sendiri jauh sebelum teman-temannya mengetahui sikap sang suami.
Ia lihat sendiri ketika sebuah kesempatan datang untuk melihat isi galeri telepon genggam Niscala. Foto-foto sang suami berpose dengan perempuan-perempuan lain. Berswafoto dengan mereka dengan wajah-wajah tanpa derita. Dan meski hanya foto, itu sungguh menyiksanya.
“Ayah belum pulang, Bun?” tanya Aruna, anak lelakinya dari balik pintu.
“Belum,” jawab Dihyan itu datar.
Matanya tajam ke depan. Menatap udara petang yang beranjak pekat.
“Aku lapar, Bun.”
“Kita segera makan, Nak. Tanpa ayahmu.”
“Sekarang, ya, Bun?”
Dihyan berdiri. Ia langkahkan kaki, namun badannya terasa berat. Seperti ada akar yang menancap di kakinya. Suaminya belum pulang. Ia sebenarnya tahu, seperti biasa. Bahwa suaminya kerja atau tidak kerja, tidak akan membawa uang ke rumah. Tidak ada uang belanja, pun nafkah untuk keluarganya.
Dengan langkah yang berat, Dihyan masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makan malam untuk Aruna. Niscala tidak memberi uang belanja, bahkan selama dua bulan ini. Maka ia masak sekadarnya. Membeli sayur dari uang upahnya sebagai guru honorer di sebuah sekolah.
Petang ini Aruna meminta makan. Seingatnya di dapur telah tandas bahan masakan. Niscala belum pulang, dan honor dari sekolah baru cair besok. Untung masih ada sisa sebutir telur, maka ia menggorengnya
“Di mana ayah, Bunda?”
“Ia bersama kesenangannya. Biarkan.”
Tapi anak laki-laki itu membaca apa yang dipikirkan ibunya. Aruna melihat duka di mata ibunya. Duka akan perilaku ayahnya yang hanya peduli dengan kesenangannya belaka.
Mata Dihyan menatap kosong pada tembok yang belum dicat. Dihyan ingat saat dua bulan lalu beberapa mahasiswa datang ke desanya untuk sebuah penelitian. Mereka menginap di rumahnya selama sebulan. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Sebagai warga desa yang terbuka, ia setuju atas keputusan suaminya meminjamkan dua kamar rumah mereka untuk kelima mahasiswa itu.
Ia sebenarnya khawatir dengan kedatangan mahasiswa itu. Tapi kekhawatiran justru tertuju pada sikap Niscala yang seperti biasa. Lebih memperhatikan perempuan-perempuan lain daripada istri dan anaknya.
Kekhawatiran yang terbukti. Salah satu mahasiswa perempuan seperti mendapat perhatian lebih dari Niscala. Dihyan menangis ketika melihat suaminya duduk di teras belakang bersama seorang mahasiswa perempuan.  
“Besok ikut saja denganku,” kata Niscala pada mahasiswa itu.
Ia mendengar dari balik jendela yang membatasi ruang tamu dan teras.
“Kemana?” jawab mahasiswa tersebut. Biasa, tapi terdengar lembut dan cukup untuk menuntut pertanggungjawaban.
“Ada pertunjukan musik di lapangan. Tapi kita berdua saja, tidak usah kasih tahu yang lain. Pun ibunya anakku.”
Dihyan jelas mendengar apa yang dikatakan Niscala. Maka ia berlari ke depan dan menangis di sana. Tersedu namun ia menahannya agar tidak terdengar dan terlihat siapapun. Untuk mengalihkan tangisnya, ia menuju halaman. Menyiram bunga-bunga yang ditanamnya. Memotong daun yang kering agar pohon tidak mati. Membersihkan debu yang menempel pada bunga-bunga itu.
“Bunga Matahari belum ada di halaman ini,” gumamnya saat melihat bunga-bunga kecil itu.
Hanya ada bunga warna merah, merah muda dan ungu. Tidak ada warna kuning ceria dan cukup besar untuk memanjakan pandangan. Maka terbersit di otaknya adalah Bunga Matahari.
“Yang selalu menghadap matahari, dan seakan terlihat paling bersinar diantara bunga lain,” imbuhnya. “Aku ingin menambahkannya di sini.”
Ia berdiri menghadap rumahnya dari halaman. Tidak ada tanda-tanda sang suami keluar. Berarti mereka masih menikmati obrolan yang menyakitkan hatinya. Ia tetap berdiri di sana.
Beberapa waktu kemudian Niscala keluar. Menstarter motornya. Sendiri dengan wajah yang penuh gembira.
“Mau kemana?” tanya Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga kecil.
Niscala tidak memperhatikannya. Hanya menatap layar telepon genggamnya dengan senyum licik.
“Mau pergi?” tanyanya sekali lagi.
Dan sekali lagi tak ada jawaban. Hanya suara motor yang dikendarai Niscala yang menjawab. Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga. Menatap warna-warni itu satu persatu seperti menatap pekerjaan murid-muridnya di sekolah. Mengusap kelopak bunga dengan lembut seperti mengusap kepala anaknya ketika akan berangkat sekolah. Membuang daun kering yang masih menempel di ranting, seperti membuang sakit hati akan sikap suaminya.
Hingga ia tak sadar malam kian pekat dan terus saja wanita itu berdiri di sana. Sambil sesekali menatap pintu rumah yang masih terbuka. Bunga-bunga yang sudah mekar menularkan bahagia di hatinya. Ia usap sambil bernyanyi kecil pada bunga yang masih kuncup.
Udara malam di lereng bukit itu semakin menggigit. Tapi Dihyan tidak merasakan gigil. Ia malah menikmati kedamaian bersama bunga-bunga yang ditanamnya dan dipeliharanya seperti anak sendiri.
Di awal hari ia melihat suaminya datang. Tapi seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak mendapat perhatian, dan masih terus berdiri di sana. Di halaman depan rumah. Bersama bunga-bunga tanamannya.
Hanya Niscala melirik sekilas padanya sambil bicara pelan dengan nada yang tidak suka, “Halaman penuh bunga, seperti hutan. Besok akan kubabat habis!”
Wanita itu bertekad akan tetap di sana, agar bunga-bunganya besok tetap tumbuh tidak dirusak oleh suaminya. Ia akan menjaganya.
Dan pagi pun menjelang, matahari menyapa dari balik perbukitan. Wanita itu tersenyum menghadap matahari pagi.
“Lihat, sumber kehidupan kita telah terbit. Beri salam padanya,” ujar Dihyan pada bunga-bunga tanamannya.
Kehidupan hari itu sudah bermula. Lalu lalang orang-orang di jalan depan rumahnya menatap taman bunga itu dengan pandangan kagum. Anak lelakinya keluar sudah lengkap dengan pakaian seragam putih merahnya.
“Aku berangkat sekolah, Bun.” Anak lelaki itu mendekat dan berpamitan padanya.
Ia usap kepala anaknya, mencium keningnya dan berdoa akan kebaikan untuk anak lelakinya itu.
“Ayah masih tidur,” tambah Aruna.
“Biarkan, Nak. Biarkan. Biarkan ia melampiaskan kegemarannya. Bersabarlah bersama Bunda.”
Aruna tersenyum dan melangkah pergi berangkat ke sekolah. Sementara Dihyan masih menatap rumahnya, berharap kebaikan melimpah pada rumah mungilnya. Berharap ada cahaya matahari menerangi kegelapan rumah karena sikap dingin Niscala. Ia ingin menjadi cahaya, seperti namanya, Dihyan yang berarti matahari.
Dihyan terus memendam rasa sakit di hatinya. Terus membiarkan tingkah Niscala sebagai suami yang tidak pernah memperhatikan dia dan anaknya. Membesarkan anaknya dengan upah sebagai guru honorer sangatlah kurang. Sedangkan Niscala, ketika keluar kadang pamit untuk bekerja hingga dua atau tiga hari.
Wanita itu sangat ingat dan menggeram menahan sakit di hatinya saat Niscala pulang dari kerja yang dua atau tiga hari itu, Niscala tidak memberinya uang.
“Kamu, kan guru. Bisa dapat uang tiap bulan!” sengit ucap suaminya.
“Tapi kamu tiga hari bekerja tentu mendapat uang. Tidaklah kamu lihat Aruna butuh biaya sekolah?”
“Gampang. Pakai gaji gurumu dulu.” Dan asap rokok pun mengepul dari mulut Niscala.
“Tapi kamu ayahnya. Yang wajib memberinya nafkah!” balas Dihyan dengan nada tinggi.
Niscala memandang tajam pada Dihyan. Tangannya mengepal. Ia hantamkan pada udara dan masuk ke dalam rumah. Pintu dibantingnya. Selepasnya hanya menyisakan gemuruh di dada Dihyan.
Dihyan ingat, waktu itu air mata yang ditahan, tak dapat lagi dibendung. Ia berlari menuju halaman yang ditanami bunga. Dan menangis di sana. Air mata serupa pupuk yang membuat bunga-bunga di tamannya semakin subur
Setelah Aruna lenyap dari pandangannya pagi ini, Dihyan ingin beranjak pergi dari halaman, tapi kakinya berat untuk diangkat. Ada serabut serupa akar yang menghunjam ke tanah. Ia menunda keinginannya untuk beranjak dari taman itu. Ia benamkan diri bersama bunga-bunga. Mengalihkan hati dan pikiran dari sikap kasar Niscala. Hanya dengan itu ia berharap mampu mengubah watak sang suami. Bunga melambangkan kelembutan, dan Dihyan ingin kelembutannya menular dan melunakkan sikap Niscala.
Ia harap begitu.
***
Satu per satu orang desa mendatangi taman bunga Dihyan. Mereka mengagumi dan dibuat heran dengan satu bunga yang bersinar terang. Kelopak kuning mengelilingi lingkaran putik di tengah. Dengan pohon lurus dan disertai daun lebar di beberapa titik dahan berwarna hijau. Satu-satunya bunga matahari di taman itu. Paling tinggi di antara bunga lain. Dan tentunya, bunga itu bersinar, menghadap rumah dan menerangi rumah itu.
Niscala keluar rumah membawa sabit dengan wajah penuh amarah. Ia menyibak sekumpulan orang yang mengagumi bunga matahari yang tumbuh paling mencolok di sana.
“Pergi semua! Akan aku babat habis bunga-bunga tidak berguna ini!” kata Niscala penuh amarah. “Dan pergi kalian semua dari sini!”
Berangsur warga desa pergi dari halaman sambil berbisik, merasa kasihan akan sikap Niscala yang tidak memiliki kepedulian.
Setelah warga pergi, Niscala mendekati taman bunga di depan rumahnya itu. Ia tersentak melihat bunga matahari yang paling menarik perhatiannya. Langsung ia menuju bunga matahari yang bersinar. Ia kagum, ia dekatkan wajah pada kelopak bunga tersebut.
“Aku tahu kamu,” ujar Niscala pelan. Suaranya bergelombang.
Hatinya bergetar hebat, sabitnya jatuh ke tanah. Ia cium bunga itu. Aroma wangi menjalar ke seluruh tubuhnya. Dilihatnya dari putik bunga matahari itu muncul titik-titik air. Hati Niscala merasa tersiram embun.
“Kamu menangis? Hentikan tangismu. Kamu tak akan mudah menangis seperti ini.”
Angin menyusuri perbukitan itu. Mendung makin menggulung di langit. Niscala sekali lagi mencium bunga matahari yang menyinari rumahnya itu. Ia lalu beranjak menuju teras rumahnya. Rencananya membabat habis bunga-bunga itu dimusnahkan. Ia pandangi bunga-bunga itu. Dan pandangannya tertuju pada bunga matahari yang sinarnya menusuk jiwa Niscala.
“Kamu Dihyan,” gumamnya di teras rumah. “Ya, kamu Dihyan. Bunga Dihyan.”
Ada rasa kehilangan di hati Niscala. Seseorang baru merasa kehilangan sesuatu jika ia tak lagi memperhatikan sesuatu itu. Hati Niscala seketika kering dalam musim hujan bermula.
Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.
Hanya bunga matahari di depan rumah itu yang tak tergoyahkan badai hari itu.
Untuk D
11 November 2018
========
Danang Febriansyah, mengelola Taman Baca Naturalitera dan tergabung dalam Forum Taman Baca Masyarakat Kab. Wonogiri. Belajar menulis bersama Sastra Alit Surakarta dan #KampusFiksi Jogja serta FLP. Beberapa karyanya, Cerpen, Puisi dan Resensi Buku pernah dimuat di media massa. Buku puisinya “Hujan Turun di Desa” terbit 2018. Novelnya “Arundaya” terbit pada 2019. Juga beberapa buku antologi yang diterbitkan baik melalui penerbit mayor maupun indie. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri.

Wednesday, September 26, 2018

MAKAM CAHAYA



http://floressastra.com/2018/09/25/makam-cahaya-cerpen-danang-febriansyah/

Julung belum pernah tahu bahwa di sana ada sebuah makam yang telah tertutup rimbun rumput berduri. Bukan hanya tidak terlihat, tapi makam itu adalah makam yang berbeda.

***
Semua penduduk harus menyerah saat ini. Karena kalau tidak, dialah yang harus menyerah nantinya. Makanya mulai dari sekarang, dia harus menyiapkan bukti kuat apabila di waktu kemudian terjadi sengketa dengan dari penduduk.

“Katakan pada mereka bahwa harga yang kita tawarkan jauh lebih baik daripada penghasilan mereka setahun ini!” seru Julung pada seseorang yang mengenakan peci agak miring yang duduk di depannya, mungkin itu bawahannya.

“Bukankah akan lebih baik kita membiarkan wilayah itu sebagai tempat yang tak tersentuh?” sanggah si peci miring.

“Wilayah itu menjorok ke lahan yang akan aku gunakan. Itu mengganggu. Lagipula, siapa yang mau membeli rumah yang bersebelahan dengan komplek kuburan?” Julung tersenyum sinis sambil menggaruk tompel di lehernya.

“Lalu?”

“Seperti yang kukatakan tadi, aku beli sekalian tanah kuburan itu. Dan pada saatnya nanti, lupakan bahwa tanah itu bekas kuburan.”

“Aku ada ide lain.”

“Kalau idemu menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat wisata religi, itu ide yang konyol. Atau jika idemu dengan memindahkan tulang-belulang ke tempat lain dimana tempat lain itu aku juga yang menyediakan, lupakan idemu itu. Aku tak mau mengeluarkan dana tambahan.”

Si Peci Miring terdiam. Majikannya itu seakan membaca ide yang akan disampaikannya. Padahal baginya ide itu yang paling realistis, tidak menyakiti semua pihak.

“Ka…kalau warga me…nolak?” Si Peci Miring tidak yakin, bicaranya tergagap.

“Kau tak dengar! Berikan harga yang tinggi!” Julung berdiri dan membentak, tidak sabar menghadapi bawahannya itu.

Si Peci Miring tersentak, tapi segera berusaha menguasai diri agar wibawanya masih terlihat. Kemudian menarik napas panjang, melonggarkan paru-parunya untuk menyiapkan diri mengungkapkan isi hatinya.

“Makam, bagi penduduk di sini artinya lebih dari sekedar daerah kematian. Makam memiliki arti lebih dari itu dan menjadi tempat peristirahatan keluarga mereka. Wilayah itu sama halnya dengan harga diri mereka. Siapapun yang mengusiknya, mereka akan bersatu untuk melawan.” Si Peci Miring menarik napas lagi. “Melunaklah sedikit,” sambungnya.

“Aku capek bicara sama kamu. Kamu kubayar mahal demi meyakinkan mereka, tapi kamu malah menyerah dari mereka.” Julung kembali duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi putar.

“Tapi…” sahut Si Peci Miring.

Dia mencondongkan tubuhnya ke depan lalu melotot dengan tajam membuat Si Peci Miring gentar. “Upahmu kutambah jika kamu mampu mewujudkan mauku ini. 3x lipat!” serunya menuntaskan kesabaran.

“Aku tidak menyerah,” sahut si Peci miring dengan suara yang tercekat. “Aku pastikan warga akan segera setuju,” lanjutnya setelah merasa tertantang dengan tawaran majikannya itu.

“Kuserahkan padamu dan pastikan warga menyetujuinya.” Julung kemudian bersandar lagi. “Bagaimanapun caranya!”

Baginya, masalah ini jangan sampai berlarut-larut. Kalau sampai tidak diselesaikan sekarang juga, dia khawatir kabar seperti ini menyebar kemana-mana dan proyek yang telah dibiayai dengan mahal ini tidak laku karena sudah banyak yang tahu latar belakangnya.

Proyek ini adalah salah satu ambisinya, impiannya dan tidak boleh gagal, kalau sampai gagal, maka dialah yang menyerah. Ini sudah terlanjur setengah jalan.

Ada rasa geram, berbagai pertanyan menggumpal di hatinya. Kenapa tanah kuburan itu ada di pinggir jalan? Kenapa bisa tanah kuburan letaknya strategis macam itu? kenapa juga persawahan yang dibelinya terdapat kuburan yang mengakibatkan bentuk batasnya tidak simetris? Sampai pada pertanyaan kenapa dia tidak membeli tanah yang lain saja?

Tanah kuburan yang tak seberapa besarnya, namun cukup mengganggu jika dibiarkan ada di sana. Maka daerah itu harus dilenyapkan. Dia tak mau gagal hanya gara-gara tanah itu. Kalau dia tidak mau menyerah, maka penduduklah yang harus menyerah. Menorehkan tanda tangan mereka pada kertas bermaterai yang telah dia siapkan.

***
Sesepuh desa akhirnya didatangi Si Peci Miring di rumahnya. Bagi Si Peci Miring, orang tua berambut keperakan itu harus diluluhkan lebih dulu. Jika sudah luluh, maka para penduduk seperti anjing penjaga. Setiap tindakan dan perkataan orang sepuh itu bagaikan sabda yang akan dipatuhi.

“Kita sudah tahu, dia bukan orang jauh, meski mayoritas penduduk tidak tahu. Maka saya mohon, katakan pada warga bahwa kuburan akan dibeli oleh pengusaha properti yang sudah maju. Harganya tinggi, bisa untuk beli rumah dan membeli tanah kuburan lain.” Si Peci Miring melobi dengan berapi-api.

Si Rambut Perak tersenyum manggut-manggut, mengisap rokok kelobotnya hingga pipi keriputnya mengempot lebih dalam.

“Orang yang sudah mati itu juga merasakan sakit. Bahkan lebih sakit daripada apa yang kita rasakan di sini. Apa kamu rela jasad bapakmu diotak-atik dan dipindahkan begitu saja?”

Si Peci Miring diam saja. Dia merasakan ketidakrelaannya saat harus memindahkan jasad bapaknya yang juga dikubur di tanah pemakaman desa itu. Tapi saat mengingat upah yang didapatnya untuk mendapatkan tanda tangan warga, juga upah atas ganti rugi tanah makam bapaknya yang cukup besar. Dia mengabaikan perasaan tidak relanya.

“Ini demi kemajuan desa kita. Akan banyak pengusaha-pengusaha properti yang masuk desa kita setelah ini, membeli tanah-tanah kita dan kita bisa mendapatkan uang yang melimpah. Mungkin bisa untuk beli mobil. Atau mungkin untuk membeli tanah di daerah lain. Bukankah itu akan membuat tingkat ekonomi penduduk lebih baik?”

“Pikiranmu seperti makanan jaman sekarang, cepat saji.” Si Rambut Perak tenang saja menjawab. “Begini saja, kamu datangi para warga dulu, baru yang terakhir aku. Kalau penduduk mau menyetujui hal yang kau iming-imingi itu, aku mengalah. Aku ikut mereka.”

“Tapi mana mungkin mereka mau, kalau sesepuh desanya belum tanda tangan?”

“Kalau tidak mau juga. Kembalilah pada bosmu itu. Suruh dia datang padaku, aku akan ajak dia jalan-jalan dan aku akan bicara padanya. Setelah itu baru aku akan tanda tangani kalau dia yang memintaku secara langsung. Lalu aku menjamin penduduk yang lain akan mengikuti.”

“Kalau dia tidak mau?”

“Katakan saja aku sebenarnya tahu siapa dia.”

Si Peci Miring gagal merayu sesepuh desa. Orang paling dituakan karena memang yang paling tua di desa itu. Usianya nyaris menyentuh satu abad. Dua kali lipat umur Julung atau majikan Si Peci Miring. Selama hampir seabad umurnya, orang tua itu tahu banyak tentang sejarah desa yang ditinggalinya ini. Termasuk sejak kapan jalan desa di aspal, dan siapa penghuni makam desa pertama kalinya. Makam desa yang ada sejak 50 tahun yang lalu.

Meski gagal, namun Si Peci Miring mendapatkan secercah harapan, bahwa keinginan majikannya tak akan lama lagi terwujud. Sesuai keinginan sesepuh desa yang juga menjabat ketua RW, Si Peci Miring kembali ke tempat majikannya untuk mengutarakan hal yang didengarnya.

“Bagaimana? Berhasil?” tanya Julung ketika Si Peci Miring datang. “Oh, wajahmu menunjukkan wajah yang gagal,” lanjutnya setelah membaca raut wajah Si Peci Miring.
“Aku memang gagal mendapatkan tanda tangan penduduk. Tapi aku mendapatkan kepastian dari sesepuh desa.” Si Peci Miring menjawab dengan wajah yang datar.

“Kepastian seperti apa?”

“Orang tua itu ingin anda temui. Dia akan mengajak anda bicara. Katanya, dia tahu siapa anda. Setelah itu dia akan menandatangi surat ini,” jawab Si Peci Miring sambil meletakkan kertas-kertas yang sudah ditempeli materai.

“Begitukah? Aku akan datang padanya.” Ada desir di hatinya ketika mendengar bahwa sesepuh desa tahu siapa dia, ini akan menjawab rasa penasarannya.

“Lalu upahku?”

“Kau berhasil hanya dalam beberapa bagian. Upahmu juga hanya sebagian saja.”

***
Julung mengikuti langkah sesepuh desa dengan perlahan, menyesuaikan dengan langkah orang tua yang lambat. Berjalan menuju tanah pemakaman desa.

Mereka masuk ke komplek kuburan, makin masuk ke dalam lalu berhenti di rimbunan rumput berduri. Sesepuh desa menyerahkan sabit yang dibawanya kepada Julung.

“Coba bersihkan rumput-rumput ini.” Sesepuh desa memberikan perintah.

Majikan Si Peci Miring menuruti saja. Apalagi ada harapan tersembul akan keberhasilannya menguasai tanah makam ini. Dibersihkannya rumput-rumput itu, tak jarang duri menggores tangan yang membuatnya gatal dan perih.

Sesepuh desa hanya sekali-sekali membantu membuang rumput-rumput berduri. Si Peci Miring melihat kegiatan itu dari balik sebuah pohon. Setelah sekitar setengah jam Julung berkutat dengan rumput-rumput itu, terlihatlah di balik rumput berduri yang dibersihkan ada sebuah kuburan dengan nisan batu yang dipenuhi lumut.

Majikan Si Peci Miring menyeka dahinya dari keringat yang membanjir. Dia melihat kuburan dengan nisan berlumut di depannya. Dia memandang sesepuh desa dengan wajah bertanya-tanya.

“Aku masih ingat lima puluh tahun yang lalu di desa ini setelah 40 hari bapakmu meninggal dunia. Ibumu pamit pergi ke kota untuk bekerja dengan membawamu yang masih bayi. Tiga bulan kemudian, dia mengirim surat bahwa dia akan pergi ke negara tetangga untuk bekerja sebagai pengasuh bayi dan meninggalkanmu di panti asuhan, juga meninggalkan alamat rumahnya di sini pada pengelola panti asuhan. Dalam surat itu, dia berpesan, jika dia tidak kembali dan kamu sudah besar lalu pulang ke desa ini, ibumu ingin kamu mengurus makam bapakmu ini.” Sesepuh desa sepertinya tidak kuat berdiri, lalu duduk di sebuah batu.

Dia serius mendengarkan. Ada pintu yang terbuka dari pertanyaan yang terkunci selama ini. Namun masih ada keraguan akan cerita orang tua itu. Bagaimana dia seolah tahu masa lalunya.

“Sepertinya ibumu memang tak kembali, kabarpun tak pernah ada hingga sekarang. Bapakmu meninggal karena kecelakaan kerja saat jadi buruh. Saat itu desa ini belum punya kuburan. Kalau ada yang meninggal, harus berjalan jauh ke desa lain. Maka diputuskan tanah ini digunakan untuk tanah pemakaman desa. Dan jasad bapakmu ini yang pertama kali menempatiya.” Sesepuh desa mengatur napasnya.

Julung termenung. Dia mengatupkan mulut. Si Peci Miring mendekat. Meski dia tahu silsilah para penduduk, tapi Si Peci Miring itu baru tahu sejarah tanah kuburan desa ini.

“Mungkin kamu bertanya bagaimana aku bisa tahu bahwa kamu ini bayi yang dulu dititipkan di panti asuhan ‘kan?” Sesepuh desa tersenyum, seakan tahu Julung akan bertanya. “Tanda lahir di leher kamu itu jawabannya.”

Julung menggaruk tompel di lehernya, Si Peci Miring mengamati tompel itu.

“Sekarang terserah kamu. Aku sudah lega menyampaikan wasiat ibumu agar kamu mengurus baik-baik kuburan bapakmu ini. Semoga kau baik-baik juga dalam memutuskan sesuatu. Karena bagaimanapun juga kita akan mati.”

Sang Majikan merasa lulutnya lunglai, lalu tak sadar bersimpuh di tanah kuburan itu. Pertanyaan dalam hidupnya tentang silsilah keluarganya terjawab hari ini. Dia seakan mendapatkan cahaya dari kalimat sesepuh desa. Tangis di hatinya berderai-derai, ada penyesalan di hati.

“Ketika tanah kuburan di kota sudah dikontrakkan dan dijual. Di sini masih luas dan gratis,” lanjut sesepuh desa. “Aku tak ingin kuburan-kuburan menjadi urusan bisnis.”

“Lupakan tanda tangan warga.” Bergetar suara Julung memerintahkan pada Si Peci Miring, tapi yang diperintah hanya diam seperti tak mendengar.

“Kamu dengar perintahnya, Pak Lurah?” tanya sesepuh desa pada Si Peci Miring.

Si Peci Miring tergagap, “iya, iya.”

Sesepuh desa kemudian pergi meninggalkan Julung dan Pak Lurah dengan senyum puas. Julung membersihkan lumut yang menutupi batu nisan. Lalu terbacalah sebuah nama di batu nisan itu.

Danang Febriansyahtergabung dalam Forum TBM Wonogiri. Belajar menulis dan makin kenal banyak karya sastra di Komunitas Sastra Alit Solo

Friday, August 24, 2018

Kakek dan Kenangan yang tak Juga Hilang

Kakek dan Kenangan yang tak Juga Hilang. (Lukisan "My Grandfather", by Treasured Whiskey. Foto: Art Cellar Gallery)

Ketukan drum yang rancak dan tepukan tangan yang berirama memastikan tiap orang yang mendengarnya akan ikut bergoyang, setidaknya mengangguk-anggukkan kepalanya atau sekedar menghentak-hentakkan kaki.
You, doin’ that thing you do.
Breaking my heart into a million pieces
Like you always do …
Irama musik That Thing You Do begitu rancak. Rock and Roll yang di terbangkan The Beatles mendapatkan pesaing hebat. The Wonders!
Aku memulai cerita pada teman-temanku.
***
“Jadi kakek benar-benar hebat.” Aku begitu terpesona dengan apa yang dikatakan ayah dari ayahku.
“Kau orang yang kesekian juta kali yang berkata demikian. Namun satu dari dua orang yang istimewa yang mengatakannya,” sahut kakek bersemangat.
“Siapa lagi?”
“Nenekmu.”
Aku benar-benar terpana. Meskipun baru beranjak memasuki SMP, tapi lagu yang kakek putarkan itu benar-benar menghipnotisku.
Lagu rock and roll yang diputar kakek dari piringan hitamnya yang masih bisa dipakai itu mengetuk gendang telingaku.
 … And you, don’t mean to be cruel
You never even knew about the heartache
I’ve been going through …
Lirik itu membuatku membayangkan betapa banyak orang yang memuja kakek saat itu. Aku meliriknya, ia menyesap cokelat panas yang kubuatkan tadi. Sebagai imbalannya, aku diceritakan masa mudanya yang menggelora itu. Menumbuhkan semangatku.
“Saat itu kakekmu ini berumur 20 dan menjaga toko musik. Ya ampun, cita-cita kakekmu ini menjadi musisi jazz pupus saat harus bekerja di toko musik itu. Namun ada pemuda-pemuda gila yang mengajakku bermain band. Gila! Band mereka band balada, jelas itu berbeda dengan jazz, bagaimana bisa menyatu? Tapi James Mattingly atau Jimmy, Leonard Haise yang biasa kami panggil Lenny dan bassisnya sukses mengajak kakekmu ini untuk bergabung menabuh drum.
Kalau ada yang lain, mereka tentu tidak mengajakku. Jiwa kakekmu ini benar-benar jazz. Drummer jazz. Tapi ini mendesak, setelah drummer mereka terdahulu kecelakaan yang akhirnya mereka kehilangan seorang drummer. Mereka sangat membutuhkan drummer untuk ajang pencarian bakat saat itu. Dan jadilah aku bersama mereka. Jimmy sebagai vokalis dan pemain gitar, Lenny sebagai backing vokal dan pemain gitar, seorang pemain bass yang bercita-cita menjadi marinir dan aku, drummer.”
 … Well, I try to forget you, girl
But it’s just so hard to do
Every time you do that thing you do …
Lagu itu, gebukan drum kakek saat itu benar-benar eksotis. Tak ada sehebat dia. Aku makin terobsesi mendirikan sebuah band, dan aku drummernya, seperti kakek.
“Lalu apa nama band kakek?”
“The Oneders.”
“Nama yang sudah diucapkan.”
“Itu nama diberikan oleh Faye, pacarnya Jimmy. Gadis cantik yang pertama kali membuat kakekmu ini terpesona. Jimmy telah salah mengajakku bergabung dalam bandnya. Sebab Gadis itu telah mengikat hati kakekmu ini. Tapi aku belum berani terang-terangan.”
“Kakek gila juga ya?”
Kakekku itu malah terkekeh. Tertawa bangga mengenang masa lalunya. Cokelat panas kembali disesapnya.
“Tidak. Tidak. Meski kakek menyukai Faye, tapi kakek tidak sejahat itu. Faye kami jadikan penata kostum.”
… I know all the games you play
And I’m gonna find a way to let you know
That you’ll mine someday …
“Kek, aku tidak tertarik dengan cerita cinta kakek. Aku ingin dengar band kakek The One … The Wan … The Won …” Aku garuk-garuk kepala mengeja nama band kakek itu.
“The Oneders.” Kakek memotong cepat.
“Tuh kan susah diejanya.”
Hanya dijawab tawa kakek.
“Kau tahu, penampilan pertama itu, kakeklah yang paling berjasa melambungkan nama The Oneders. Gara-gara kakekmu ini grogi tampil di atas panggung pertama kali, irama That Thing You Do yang balada itu malah jadinya Rock and Roll. Makanya ketukan drum jadi cepat, menghentak, yang pasti bikin pendengar jingkrak-jingkrak.”
“Respon teman-teman kakek?”
“Masak sih di atas panggung mereka akan protes? Memang Jimmy, Lenny langsung menoleh ke belakang, di balik drum kakek asyik sendiri dengan tabuhan drum. Tapi si pemain bass, entah lupa namanya kakekmu ini mengikuti irama drum. Jadi mau tak mau Jimmy dan Lenny mengikuti juga irama lagu yang jadi rock and roll itu.”
“Wah kakek hebat, kakek orang yang berpengaruh.”
“Ya, salah satu ciri pemimpin adalah bisa mempengaruhi orang lain.” Kakek kembali terkekeh.
Lalu mengambil minuman cokelatnya. Tapi rupanya cangkir itu sudah tandas. Dia melirikku, mengacungkan cangkir itu padaku agar membuatkan cokelat lagi. Aku merajuk. Ceritanya belum usai.
“Aku tak akan melanjutkan kisah itu kalau tak ada secangkir cokelat panas di sini.”
Aku luluh, aku terima cangkir itu dan berlalu membuatkan cokelat permintaan kakek. Kakek memang pandai mempengaruhi.
… ‘Cause we could be happy, can’t you see?
If you’d only let me be the one to hold you
And keep you here with me …
Aku kembali dengan secangkir cokelat panas untuk kakek, piringan hitam kembali mengulang lagu kebanggaan kakek, That Thing You Do.
Kakek menikmati cokelat itu, sampai lupa melanjutkan cerita. Aku masih menunggu. Kakek meletakkan cangkir. Pandangannya lalu menerawang ke langit-langit rumah.
“Pennsylvania…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Aku masih menunggu kelanjutannya. Pemain band. Itu cita-citaku yang rupanya telah dilakukan oleh kakek. Tak salah kakek tiba-tiba menjadi idolaku saat meceritakan kisah masa lalunya itu. Tentu masa lalu yang dipenuhi pertanyaan olehku.
“Di kota itu semua gemerlap yang mengubah hidupku berawal.”
Aku tidak berminat mengganggu kakek mengenang masa lalunya, aku hanya diam bersabar menunggu apa yang akan dikatakannya. Tapi rasa penasaranku mengalahkan semuanya.
“Kenapa kakek bisa sampai kota itu?”
“Beasiswa, cucuku. Kakek dapat beasiswa untuk sekolah di sana, di Amerika. Makanya kamu sekolah yang pinter, biar dapet beasiswa dan sekolah di luar negeri juga.”
Aku mengangguk saja. Lalu menunggu kakek memperdengarkan kisah masa lalunya.
 … ‘Cause I try and try to forget you, girl
But it’s just so hard to do
Every time you do that thing you do …
Lagu yang diputar seperti menjadi backsound dari cerita kekek.
“Hal yang kulakukan… adalah menjadi diriku sendiri. Pada akhirnya aku duduk di belakang perangkat drum yang disediakan panitia pencari bakat.” Kakek menghela napas. “Wow … stik drum sudah kugenggam. Ini panggungku. Aku memulai dengan ketukan stik drum, menandai dimulainya lagu kami. That Thing You Do…”
Kakek kemudian tertawa. Aku hanya senyum saja. Menghargai tawa kakek, meski aku tak tahu apa yang ditertawakannya.
“Kau tahu apa yang dilakukan Jimmy, Lenny dan pemain bass kami saat drum aku gebuk dengan irama Rock and Roll?” Kakek tertawa lagi. “Mereka melihat kakek dengan tatapan bingung, ‘ini lagu Balada, ketukan drum kamu salah’ mungkin begitu dalam pikirannya. Tapi apa boleh buat, drum sudah kugebuk, mereka mau tidak mau harus mengikuti.”
Kakek tertawa lagi, lalu mengambil cangkir cokelat di depannya, menyesapnya lagi.
“Dan kau tahu, dari balik panggung, pacar Jimmy tersenyum melihat ulah kakekmu ini. Itu menyenangkan sekali.”
Aku tidak tertarik kisah pacar Jimmy itu. Aku ingin jadi pemain band, jadi aku lebih tertarik kisah kakek tentang band-nya. Biar teman-temanku merasa iri denganku, mereka akan memberi aplaus saat kuceritakan kisah hebat ini.
… I don’t ask a lot, girl
But I know one thing’s for sure
It’s the love I haven’t got girl
And I just can’t take it anymore …
Lagu That Thing You Do berputar ulang dari piringan hitam kakek. Larik demi larik cukup memikat di telingaku. Meski aku baru beranjak remaja, tapi lagu itu cukup menarik perhatianku, ditambah cerita hebat kakek sebagai seorang musisi.
“Dan That Thing You Do memukau juri dan para penonton. Tak tanggung-tanggung The Oneders menjadi juara, berkat Rock and Roll. Saat itu musik Rock and Roll ditolak para pemuka agama di sana. Kata rohaniawan itu musik setan.” Kakek tertawa lagi, mencibir olok-olok sebagai musik setan. “Hadiah seratus dolar ada di tangan kami. Ini kemenangan yang sensasional, karena kecelakaan ketukan drum.” Air mata kakek sampai menetes saat tertawa mengenang kemenangannya itu.
“Ada kelanjutannya setelah kemenangan itu?”
“Tentu. Pintu The Oneders terbuka lebar. Cafe dan restauran mengantri agar kami bisa manggung di tempat mereka. Dan kebanggaan bagi kami saat stasiun radio lokal mulai memutar That Thing You Do. Kau juga akan bangga jika saat itu kau merasakan lagu kami sangat sering diputar. Akibatnya label rekaman besar A & R sampai rela menyuruh manajer handal mereka menemui kami. Mr. White, manajer itu menawarkan kepada kami untuk bergabung dalam anak perusahaan A & R, Play Tone Records. Kau bisa baca di sampul piringan hitam itu.
Dan kau yang susah mengeja nama The Oneders, cucuku, kini tak lagi kesusahan. Mr White mengubah nama The Oneders menjadi The Wonders. Rupanya Mr. White juga kekusahan mengeja nama itu, nama yang tidak menjual katanya.
Mr White punya pikiran ke depan, maklum dia sangat berpengalaman menangani band-band baru seperti kami. Dia memerlukan manajer tour buat kami, dia tahu apa yang kami butuhkan, bahkan kami tidak berpikiran sejauh itu. Lalu Faye, pacar Jimmy si vokalis itu yang jadi manajer tour kami.”
Pikiranku berkelana ke tahun 1964, ketika band kakek berjaya.
“Kau lihat kaca mata hitam itu?” Kakek menunjuk sebuah kaca mata hitam klasik yang tergeletak di meja baca kakek. “Itu kacamata pemberian Mr. White pada kakek, dan sejak saat itulah kacamata hitam adalah ciri khas kakek. Jauh sebelum band Indonesia, Radja lahir.” Kakek tertawa lagi, kakek tahu juga band idola ayahku, aku tersenyum.
… ‘Cause we could be happy, can’t you see?
If you’d only let me be the one to hold you
And keep you here with me …
Lagu yang terus terngiang dan cerita kakek ini membakar semangatku agar keinginanku mendirikan sebuah band cepat terwujud.
“Kami pun membuat album, bukan cuma single seperti band-band sekarang, cuma bisa bikin lagu sebiji saja merasa besar, legend dan menjadi sombong. Tidak, kami bikin album. Lagu andalan tentu That Thing You Do, dan sebuah lagu lain Little Wild One yang juga menjadi andalan. Meski kehebohan That Thing You Do susah tertandingi.
Tak hanya di situ, cucuku. The Wonders meroket, sibuk. Tak ada waktu buat istirahat. That Thing You Do menjadi pemuncak dalam tangga lagu Billboard. Kami dipuncak karier dalam waktu yang cukup cepat. Kami pernah menjadi band pembuka band The Supremes, band yang cukup legendaris saat itu. Namun karena That Thing You Do juga, status sebagai band pembuka itu hanya seperti iklan dalam TV, singkat. Karena kami melesat sebagai bintang di Amerika. Yang saat itu dijejali oleh The Beatles yang menjadi fenomena dalam dunia musik. Tak pelak, kami lalu digadang-gadang oleh pengamat musik sebagai pesaing berat The Beatles.
… ‘Cause it hurts me so just to see you go
Around wit someone new
And if I know you, you’re doin’ that thing
Everyday just doin’ that thing
I cant’ take you doing that thing you do …
Aku membiarkan kakek bersenandung lagunya. Kakek sangat bersemangat dalam bercerita. Mungkin karena mengenang masa lalu menjadi seorang idola atau karena aku setia mendengarkannya dengan baik.
Ia melanjutkan cerita mudanya setelah menandaskan minuman cokelat dalam cangkir porselennya.
“Kami benar-benar sibuk. Bayangkan, tour keliling Amerika. Bukankah itu luar biasa bagi band pemula seperti kami. Dielu-elukan banyak orang, tak pelak, pipi kakek memerah karena banyak yang mencubitnya. Kacamata hitam kakek bahkan pernah direbut penggemar, tapi segera diambil kembali oleh petugas keamanan. Saat itu, kacamata pemberian Mr. White tak lagi kupakai, aku mengenakan duplikatnya saja. Benar-benar capek menjadi idola itu.
Dampak lain dari terkenal adalah tawaran bermain dalam sebuah film. Seingat kakek, itu film bertema pantai, Weekend at Party Pier kalau nggak salah judulnya. Namun di sinilah The Wonders memulai keretakannya. Pemain bass kami yang memang bercita-cita menjadi marinir, bertemu para marinir di pantai. Dia pun menghilang tanpa kami ketahui kabarnya, mungkin melanjutkan cita-citanya sebagai marinir.
Padahal saat itu kami juga harus datang di acara talkshow secara live. Kau tahu, itu acara talkshow yang sangat diimpikan oleh banyak selebritis. Kami sangat beruntung diundang dalam acara itu. The Hollywood Television Showcase nama talkshow paling populer saat itu.
Tapi apa kata dunia saat kami kehilangan pemain bass? Namun, ah rupanya talkshow tetap berlangsung dengan baik meski kami baru saja merekrut bassis yang baru.
Kelegaan setelah mendapatkan pengganti bassis ternyata hanya sekejap mata. Mencapai puncak dalam waktu cepat rupanya juga berlaku sebaliknya, bahkan menukik lebih cepat. Kami jatuh berdebam. BAM!” Kakek setengah berteriak membuatku terlonjak.
“Perpecahan yang lebih besar terjadi. Ego kami yang masih muda-muda ini tidak bisa ditolerir. Ditambah kisah cinta Jimmy dan Faye yang juga mengalami keretakan. Meski bagiku itu sebuah anugerah. Jimmy menjalin cinta dengan sekretaris di A & R. Faye pun yang sebelumnya dalam kesibukan kami jarang mendapat perhatian Jimmy, kini makin putus asa. Kakekmu ini dengan sok pahlawan menjadi pengobat sakit hati Faye. Sampai kini, nenekmu Faye masih bersama kakek.
Perpecahan itu semakin dimantapkan oleh Mr. White, sebagai manajer, dia sudah tak mampu lagi menjalani peran secara maksimal.
Dan selesai. Sekali naik dengan cepat, turunpun juga tak kalah cepat. 1 album 1 fenonema, bukankah itu ajaib? Sesuai dengan nama band kami, The Wonders.” Kakek menghela napas, merapikan rambut berubannya dengan kedua tangan.
“Lalu setelah The Wonders bubar, kemana para personelnya?” tanyaku penasaran.
“Jimmy kembali ke jiwanya, meneruskan karier sebagai penulis lagu-lagu balada. Aku meneruskan langkahku yang terhenti sebagai musisi jazz, bermain dari satu band ke band lain dan menjadi guru musik untuk melanjutkan hidup di sana.”
Aku menatap wajah kakek yang memang masih menyisakan ketampanan. Kakek telah membuatku bangga.
***
Teman-temanku di sekolah yang kuceritakan kisah hebat kakek semua terkagum-kagum. Aku bangga, hingga salah seorang teman menyeletuk.
“Bukankah nama kakekmu itu Giyo?”
Aku mengangguk, masih merasa bangga dengan cerita yang baru kuperdengarkan.
“Setahuku, drummer The Wonders itu bukan Giyo, tapi Guy Petterson.”
Aku menelan ludah.
“Dan, The Wonders itu, ‘kan?”
Pandangan teman-teman yang lain tajam padaku.
-selesai-

Danang Febriansyah, belajar menulis di FLP Soloraya dan Komunitas Sastra Alit Solo. Mengelola taman baca dan tergabung dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Wonogiri. Karya-karya tersiar di sejumlah media seperti Radar Mojokerto, Joglosemar, Solopos, Koran Muria, Koran Pantura, Majalah Hadila, Majalah Serambi Al-Muayyad, Merah Putih Pos 2016. Juga termaktub dalam besejumlah antologi Antologi Cerpen “Joglo 4 : Cerpenis Terpilih” (TBJT 2007), Antologi Cerpen “Love Never Fails #3” (nulisbuku.com, 2014), Antologi Cerpen “Joglo 15 : Botol-botol Berisi Senja” (Taman Budaya Jawa Tengah, 2007) Antologi Cerpen “Temukan Warna Hijau” (Elex Media Komputindo, 2014), Antologi Puisi “Jendela dari Koloni” (Taman Budaya jawa Tengah, 2015), Antologi Puisi “Luka-luka Bangsa” (Pangaro Media Utama, 2015) dan Novellet “Lot & Purple Hole” (Elex Media Komputindo, Agustus 2015).