Labels

Showing posts with label SUDUT PANDANG. Show all posts
Showing posts with label SUDUT PANDANG. Show all posts

Saturday, December 28, 2019

Tulisan Ringan yang Dimuat di Koran Merapi Jogja


Berikut beberapa tulisan ringan saya yang pernah dimuat di Koran Merapi Jogja. Mungkin bisa jadi referensi menulis pengalaman sederhana untuk dikirim ke Koran Merapi. Sebab tulisan ringan seperti ini juga dihargai berupa honor. 
Belum semua tulisan ringan saya yang pernah dimuat di Koran Merapi saya tuangkan di blog ini. Ini hanya beberapa saja, karena tiba-tiba saja honor datang ke rumah tanpa saya tahu tulisan mana yang dimuat. 
Menarik, kan menulis itu? Meski sederhana, tapi tidak ada salahnya dicoba. Untuk tulisan seperti ini, saya kira siapapun bisa bisa. Semoga bermanfaat.

PJSK (Pengamen Jalanan Satu Keluarga)
Danang Febriansyah

            Pengamen jalanan, ada di setiap daerah di Indonesia. Tapi di sebuah desa di Wonogiri, ada pengamen jalanan yang terdiri dari satu keluarga, dari orang tua hingga anak-anaknya. Anaknya pun tidak hanya satu, tapi lebih dari lima orang. Yang paling kecil masih sekitar usia anak TK hingga awal SD, juga ikut mengamen.
            Seluruh anak-anaknya tersebut tidak sekolah. Bukannya tidak mampu, tapi tidak mau sekolah meski sudah dibujuk tetangga-tetangganya.
            Jika sedang mengamen, dari pasar ke pasar, selalu berombongan. Minimal lima orang bersaudara, termasuk yang paling kecil. Kadang lebih, beserta bapaknya yang bertugas meminta uang pada pedagang di pasar.
            Mereka bahkan membuat kaos sebagai seragam. Di bagian punggung kaos ditulis “PJSK. Pengamen Jalanan Satu Keluarga”, sedang di bagian depan kaos ditulis nama-nama masing-masing keluarga.


***


GENDAR PECEL RASA TOILET
 Danang Febriansyah

            Sarapan yang dirasakan teman saya ini sungguh ajaib. Ia membeli gendar pecel untuk menu sarapan suami dan anaknya. Sebagai istri, ia merasa itu adalah sebuah kewajiban, di samping untuk sarapan dirinya sendiri.
Iapun melajukan motornya menuju warung langganan, karena tutup ia berpindah di warung lain dan membeli tiga bungkus gendar pecel. Sesampainya di rumah, ia menyiapkan menu tersebut untuk suami dan anaknya. Ia sendiri juga langsung menyantap menu itu.
Malang, ia mencium aroma kotoran di sela makannya. Ia mengendus ke sana ke sini. Dan ditemukan sepucuk kotoran manusia yang telah berlumur sambal pecel. Ia benar terjadi dan menjadi sarapan yang maling menjijikkan sepanjang hidupnya.

***

Bule di Dalam Pasar Tradisional


Minggu, 6 Oktober 2019, pasar tradisional Puhpelem, Wonogiri heboh. Bukan hanya karena ramai pengunjung, tapi ada warga negara asing berkunjung ke dalam pasar. Para penjual ramai menunjuk dan tertawa, juga berdecak melihat dari dekat seorang warga negara asing. Beberapa berswafoto dengannya. Apalagi banyak penjual yang barang dagangannya dibeli olehnya. Maka kebahagiaan terpancar dari para penjual seperti mendapat hiburan lebih. Komunikasi pun banyak menggunakan bahasa tubuh. Beberapa diterjemahkan oleh seorang wanita berkulit hitam manis di dekatnya.
Pun seorang penjual tembakau, barang dagangannya berupa tembakau dibeli oleh warga negara asing itu senilai Rp. 20.000. Seorang penjual buku meski sedikit bisa berbahasa Inggris tak lepas juga didekatinya untuk mencari buku berbahasa Inggris.
Setelah sang bule dan perempuan di dekatnya berjalan meninggalkan kios tembakau, Mbah penjual tembakau bertanya agak kencang pada penjual di sekitarnya. Membuat pandangan beberapa orang tertuju pada mbah tersebut.
“Itu perempuan di dekatnya, pembantunya, ya?”
“Itu istrinya, Mbah. Istrinya,” jawab penjual buku perlahan.

***

JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN
Danang Febriansyah

            Pesan “Buang Sampah Pada Tempatnya” sudah sering kita dengar. Akan tetapi banyak orang yang tidak peduli dan buang sampah sembarang tempat, meski itu orang yang sudah dewasa.
            Berbeda dengan seorang anak kecil kelas 2 SD di Bulukerto, Wonogiri. Ia selalu menyimpan sampah bekas snack dahulu di sakunya atau di bagasi motor ayahnya jika belum menemukan tempat sampah. Ia akan membuangnya jika sudah menemukan tempat sampah.
            Kalaupun ia terpaksa membuang sampah sembarang tempat, misal sampah basah, ia akan meletakkan sampah itu perlahan, bukan melemparnya dengan perasaan menyesal tidak membuang sampah di dalam tempat sampah. Ia meletakkan sampah itu sambil mengucap basmalah lebih dulu. Kemudian ia berkata, “Maafkan aku ya Allah, buang sampah sembarangan.” Padahal orang tuanya tidak mengajari kalimat itu.

Sunday, December 23, 2018

Membangun Rumah Seorang Diri

Dimuat di Kolom "Terjadi Sungguh-Sungguh" Koran Merapi, Mei 2018

Biasanya jika seorang ingin membangun rumah, ia membutuhkan banyak tenaga dan tukang hingga rumah siap ditempati. Akan tetapi tidak bagi sepasang suami istri yang tinggal di Tenggar, Desa Bulurejo, Kec. Bulukerto, Kab. Wonogiri. Sang suami membangun sendiri rumah tembok untuk keluarga kecilnya secara bertahap.
            Mulai dari membuat batako, mengaduk semen, memasang batako hingga membuat kusen, hingga rumah tersebut siap ditempati keluarganya. Bahkan belum lama ini ia mulai menghaluskan lantai dengan semen seorang diri. Ia mengerjakan itu saat malam setelah siangnya ia bekerja di tempat lain.

Pengirim : DANANG FEBRIANSYAH, Bendo RT. 02/02, Ngaglik, Bulukerto, Wonogiri.

PROFIL TAMAN BACA NATURAL WONOGIRI




Nama Taman Baca      : Taman Baca Natural
Pengelola                     : Danang Febriansyah
Tahun Berdiri              : 2015
Alamat                         : Bendo RT. 02 RW. 02, Ds. Ngaglik, Kec. Bulukerto,
                                      Kab. Wonogiri, 57697. Jawa Tengah
HP                               : 085229297929

Pada awal tahun 2000-an adalah embrio Taman Baca Natural Wonogiri, meski belum terbentuk. Memulai membeli buku-buku satu demi satu dengan tujuan membuat perpustakaan pribadi. Karena memang saya suka membaca. Pada sekitar tahun 2005 saya mulai mengatakan pada teman-teman dan beberapa orang  jika ingin membaca buku bisa pinjam di tempat saya.
Akhirnya ada juga yang pinjam buku. Namun ternyata ada orang yang pinjam namun hingga sekarang buku tidak kembali. Ini membuat saya kecewa. Akhirnya hanya teman-teman saya saja yang boleh pinjam, dan bisa juga buku saya antar.
Pada 2010 saya mulai tinggal di Solo. Setelah bertemu dengan seorang penulis Gol A Gong di Solo bersama Forum Lingkar Pena Solo, ia berkata jika ingin buka taman baca harus siap buku hilang. Maka saya memiliki niat jika sudah kembali ke Wonogiri ingin memberanikan diri untuk lebih membuka taman baca untuk mempermudah akses baca masyarakat.
Ternyata jalan menuju hal itu saya menemui kendala yang menyedihkan. Selama tinggal di Solo, buku yang di rumah Wonogiri diserang rayap, sebab salah satunya tidak punya rak buku dan tidak ada yang merawat. Beberapa buku tak dapat lagi digunakan. Ini lebih menyedihkan daripada buku dipinjam tapi tidak kembali.
Teras Baca Salon Reri yang didirikan Taman Baca Natural dipublikasikan oleh Jawa Pos Radar Solo

Pada tahun 2015 ketika sudah kembali mudik ke Wonogiri, saya bulatkan niat untuk membuka taman baca dengan modal buku-buku koleksi pribadi. Sebagian kecil saya letakkan di salon yang dikelola istri agar ada pelanggannya yang mau membaca buku.
Sedangkan buku-buku yang lain masih di rumah dan masih belum memiliki rak buku. Dua tahun berselang pemerintah menggratiskan pengiriman buku tiap tanggal 17 setiap bulan. Beberapa kali taman baca yang saya kelola mendapatkan bantuan buku. Koleksi buku kian banyak bertambah, namun rak buku belum mampu saya miliki.

Kini Taman Baca Natural Wonogiri yang sudah berjalan selama 3 tahun sejak 2015 dan telah tergabung dalam donasi.buku kemdikbud dan tergabung juga dalam Forum Taman Baca Masyarakat, kab. Wonogiri.

Thursday, March 3, 2016

BACALAH, DENGAN NAMA TUHANMU YANG MENCIPTAKAN

Sumber gambar : slideshare.net

                 Membaca, adalah seharusnya menjadi kebutuhan manusia. Sebab dengan membaca, manusia mampu menjelajah banyak tempat dimana dompet kita kadang tak mampu menjangkau satu tempat saja :-D
                Bahkan membaca adalah sebuah perintah awal Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya Muhammad dalam surat Al-‘Alaq ayat pertama “Iqro’ bismirobbikal ladzii kholaq” – Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”. Nah, jelas sudah seharusnya bagi yang tidak atheis bahwa membaca itu penting.
                Sayang, begitu banyak manusia yang masih suka lalai dalam melakukan hal indah ini. Dimanapun tempatnya entah di kota, apalagi di desa. Sedang pemerintah rupanya abai terhadap hal membaca yang mungkin dianggapnya remeh ini. Lalu buku-buku yang terbit makin banyak, dan makin banyak juga yang hanya mampir sejenak di toko buku sebelum akhirnya pindah rak yang “terkucil” sampai pindah masuk dalam gudang. Masih untung kalau masuk ke buku-buku obral.
                Ini bukan salah penulisnya, bukan salah bukunya yang berkualitas buruk dan penerbit tidak bisa disalahkan atas sekejapnya buku beredar di toko buku. Dan buku masuk harga obral itu tidak lantas menurunkan kualitas buku tersebut. Tidak menurunkan kualitas penulis yang rela 3 – 4 bulan menuliskan ide-idenya demi menjadi sebuah buku yang kelak beredar di banyak tempat dengan harapan banyak masyarakat yang membaca.
Ini bukankah salah satu sebabnya adalah minat baca masyarakat Indonesia yang masih lemah? Sementara banyak para pejabat pemerintah asyik bergumul dengan kemewahannya – beberapa dengan harta hasil korupsinya tanpa peduli kualitas masyarakatnya. Para penerbit dan orang-orang yang peduli dengan buku dan membaca bergerilya membudayakan membaca.
                Ada Penerbit Diva Press Jogja yang memberikan buku-buku gratis yang sampai kini sudah lebih dari jutaan buku yang digratiskan. Juga Asma Nadia Publishing House yang banyak mendirikan perpustakaan di banyak tempat. Juga beberapa komunitas, seperti FLP yang sudah memiliki banyak sekali anggota dan pelatihan menulis. Sastra Pawon yang sering mengadakan bincang sastra di Solopos FM dan Balai Soedjatmoko, Solo. Komunitas Sastra Alit yang kontinue dengan bahas karyanya meski beranggotakan tak lebih dari selusin orang-orang yang peduli.
                Cukupkah usaha segelintir orang ini untuk mencerdaskan bangsa dengan membaca?
                Belum!
                Butuh banyak tangan-tangan yang terulur, butuh hati yang peka dan butuh kerja nyata orang-orang yang peduli seperti mereka – Abaikan saja para pejabat yang menganggap dirinya terhormat itu.
                Kita tahu minat baca Indonesia berapa di peringkat bawah di banding negara-negara lain. Sementara banyak negara lain yang menjadikan buku sebagai kebutuhan primer, kita yang di Indonesia ini masih menjadikan buku sebagai daftar belanjaan yang kesekian.
                Saya telah membuktikannya tentang hal ini.
                Berusaha memasyarakatkan buku dan membudayakan membaca di desa melalui taman baca dan kios/los buku di sebuah pasar tradisional, saya berjalan perlahan. Mempersilahkan orang yang datang untuk membaca, memberikan sebuah buku secara cuma-cuma pada pelanggan yang masuk dalam kategori mendapatkan buku gratis adalah salah satu usaha yang saya coba. Remeh, kecil, tak seberapa memang, tapi kalau tidak saya lakukan, saya akan makin malas untuk bersedekah.
                Suatu ketika datanglah seorang anak kecil yang menarik tangan ibunya mendekat ke kios buku saya – yang saya kasih brand Losbuku. Ia, anak kecil itu meminta dibelikan buku belajar membaca pada ibunya. Begitu gigih anak itu ingin membaca terlihat dari raut mukanya yang serius membuka buku belajar membaca itu.
                Datar saja muka ibunya melihat keinginan baik sang anak bahkan nampak judes, tak suka dengan kelakuan anaknya. Sang ibu yang memiliki surga di telapak kakinya ini memandang remeh sebuah buku yang ditunjuk si anak, beliau cuek dengan minat anaknya.
                “Bu, aku mau buku ini,” ujar sang anak.
                “Nggak usah, buat apa buku mewarnai!” tegas ibunya menolak.
                Ada keganjilan dari kalimat yang diucapkan ibu itu. Pertama, buat apa buku. Ibu ini rupanya belum dapat hidayah betapa pentingnya sebuah buku bagi kehidupan. Beliau perlu dirukyah. Halah :-D
                Keganjilan yang kedua, ibu ini entah buka huruf atau gimana, jelas bahwa yang diinginkan sang anak adalah buku belajar membaca, sebab dilihat dari usianya anak itu memang saatnya belajar untuk membaca. Namun sang ibu mengatakan bahwa itu buku mewarnai. Semoga Allah membuka hati sang ibu ini J
                Rengekan sang anak tidak dipedulikan sang ibu. Saya ingin sekali memberikan secara cuma-cuma pada anak ini buku yang dimaksudkan. Harganya tak seberapa, tapi ini penting buat anak itu. Namun sang ibu dengan cepat menarik tangan anaknya itu, pergi dari Losbuku.
                “Sudah nggak usah buku. Ayo jajan saja!” kata sang ibu sambil berjalan menarik tangan anaknya dengan cepat.
                Kalimat terakhir sang ibu ini yang membuat saya tertegun, buku masih kalah dengan sekedar jajan. Hingga lupa pada niat saya untuk memberikan buku gratis pada anak itu. Ah, sayang.. maafkan...
                Nah, dari kejadian itu keinginan saya untuk memasyarakatkan buku dan membudayakan membaca di desa semakin naik level.
                Bahwa perintah membaca dalam Al Qur’an itu belum masuk ke sanubari banyak orang. Bahwa kebutuhan buku – meski berharga murah, belum dipedulikan.
                Ada mimpi yang menyembul tidak dalam tidur saya : Mendirikan perpustakaan atau taman baca di desa. Itu.

               

                Wonogiri, 4 – 3 – 2016                 05.30 AM

Monday, February 22, 2016

RINDU KOMUNITAS




                Hidup di desa itu antara enak dan tidak. Di banyak film, menggambarkan kehidupan di desa yang damai, sejuk dan hijau. Hingga banyak orang yang bercita-cita suatu saat ingin hidup di desa dengan beternak dan bercocok tanam. Saya cuma tersenyum mencibir, dikiranya beternak dan bercocok tanam semudah dia meludah.
                Saya pernah hidup di kota dan banyak hidup di desa. Sebagai anak desa, saya ditakdirkan untuk mencintai buku, menyukai membaca dan menggemari menulis. Dimana teman-teman saya di desa tak satupun yang sehaluan. Tapi kegemaran saya itu tidak pernah hilang, malah makin menjadi.
                Seingat saya, sejak tahun 2000-an buku-buku mulai mengisi kamar. Stelah di tahun 1997-an aku mulai menulis. Sejak ada buku maka kegemaran menulis pun kembali perlahan mengiringi rutinitas membaca. Dan di tahun 2006, hampir tiap minggu selama 4 bulan bolak balik desa-kota, saya mampu membeli buku. Itu terjadi sejak saya masuk di sebuah komunitas menulis, Forum Lingkar Pena. Dari sana saya mengenal beberapa penulis seperti Donatus A. Nugroho dan (Alm) Joko Sumantri. Melalui nama yang terakhir ini saya mengenal Komunitas Pawon, saat cerpenku masuk dalam Antologi Joglo 4 : Cerpenis Terpilih Jawa Tengah pada tahun 2007.
                Dari situ saya mendirikan sebuah perpustakaan pribadi yang saya beri branding “Pustaka Dan” dengan tagline “Bila Ilmu Lebih Berharga”. Beberapa teman-teman saya mulai meminjam buku koleksi saya, novel, motivasi, cerpen dan puisi sampai relijius dan non fiksi adalah buku-buku yang dipinjam teman-teman setelah sedikit saya promosi. Beberapa diantaranya saya mengantar dan  mengambil jika sudah selesai dibaca. Entah namanya, mungkin saya saat itu ingin memasyarakatkan buku. Dan antara rela dan tidak, beberapa buku saya hilang sebab saya lupa siapa yang meminjam.
                Akan tetapi sejak tahun 2007 itu saya kembali “naik gunung”, hidup pasrah dengan fasilitas desa. Saya seperti kehilangan pegangan dan motivator sebuah komunitas sastra. Efek terburuknya, saya berhenti menulis, berhenti membeli buku, bahkan kegemaran membaca kian jarang. Buku-buku yang mulai ratusan memenuhi rak buku terasa sunyi.
                Meski tahun 2010 saya kembali ke kota, namun naluri menulis itu masih belum tumbuh. Terakhir tahun 2013, ada keinginan kembali menulis setelah bertemu komunitas lama di sebuah media sosial. Dari FLP ini juga saya mengenal Komunitas Sastra Alit yang kecil namun luar biasa itu. Gairah menulis saya kembali menjadi-jadi, buku-buku kembali terbeli. Dan tulisan-tulisan saya kembali dimuat di media – meski belum seberapa. Bahkan dua tahun setelah itu saya juga menerbitkan buku, meski itu antologi dan dua diantaranya telah beredar di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia. Bersama tim menulis D’Purple, saya memenangai sayembara menulis. Di tahun-tahun itu pula saya mendapat kontrak menulis sebuah ensiklopedia, dan beberapa kali menjadi Ghost Writer. Bagiku itu sebuah pencapaian luar biasa bagi saya seorang anak desa di ujung timur Wonogiri.
                Sayang, di tahun 2015 saya harus kembali ke desa dan menata kehidupan di desa. Karena disinilah kelak saya menikmati hidup. Namun saya sudah tidak segalau dulu saat kehilangan komunitas. Saat ini saya juga jauh dari komunitas sastra, FLP, Sastra Alit, acara-acara yang diadakan oleh Pawon Sastra yang selalu seru di Balai Soedjatmoko. Namun saya akan mengelola kelemahan ini sebagai sebuah keindahan.
                Misi membudayakan membaca dan memasyarakatkan buku mulai saya perdalam. Merintis sebuah taman baca juga dimulai. Meski kadang rindu akan komunitas-komunitas itu terus mengiris, namun dengan kesendirian, saya berusaha terus menulis.
                Acara bedah buku pun aku buat meski berdiskusi dengan hatiku sendiri. Gemas dengan ending yang membuat geregetan pun aku rasakan sendiri. Menikmati acara itu juga sendiri. Belanja buku bulanan juga sendiri, tak lagi ditemani Sang Sahabat ketika berkunjung ke Gramedia, Togamas seperti saat di kota dulu. Kini belanja buku tetap saya lakukan secara online. Saat sahabat terpercayaku belum terbuka hatinya untuk mencintai buku. Hal ini mengingatkan saya pada Shiroh Nabawiyah, kisah hidup Muhammad yang tidak sukses meng-islam-kan pamannya sendiri Abu Tholib. Meskipun begitu sang paman tetap mendukung, menjaga dan membela Muhammad dengan cara apapun. Seperti Sahabatku itu.
                Inilah salah satu kesedihan hidup di desa. Benar, desa itu hijau, sejuk dan jujur. Tapi jauh dari teman-teman yang senyawa meneriakkan karya sastra itu sunyi. Berjuang sendiri membuka mata desa akan buku ....
... Dan kesendirian itu tetap keren, kata motivasi seorang penulis di Pawon Sastra dalam komentarnya di status Facebookku. Soe Hok Gie, Nietsche dan Tan Malaka juga sendiri.

Bukankah Muhammad juga sendiri?

HAKIMILAH BUKU DARI SAMPULNYA


Sumber gambar : harianjogja.com
“Don’t judge a book by a cover” – Jangan hakimi buku dari covernya.
                Itu tentang buku.
                Bagaimana kalau manusia? “Jangan hakimi orang dari penampilannya (please translate!). Nah, benarkah ungkapan “Kesan pertama begitu menggoda... ?”
                Bisa jadi, bisa jadi...
                Ini tentang salah satu profesi yang kontroversial. Profesi yang membantu sekaligus mencekik yang berdampak pada kerusakan dalam rumah tangga. Wow...     Profesi seorang bankir. Bagaimana bisa? Bank yang dikenal dengan Bank Plecit, istilah lain rentenir a.k.a lintah darat.
                Kita banyak yang sudah tahu seperti apa bank swasta yang satu ini. Untuk mendapat pinjaman dari bank yang satu ini, memang sangat-sangat mudah, cukup fotokopi KTP tanpa agunan atau slip gaji. Semua serba mudah yang membuat banyak orang – kebanyakan ibu-ibu rumah tangga – banyak menggunakan jasa ini, sebagian tanpa sepengetahuan suami.
                Kini, kita bicara tentang bank swasta ini di tempatku saja, khususnya di tempatku dagang buku, di sebuah pasar tradisional. Lebih dari setengah tahun aku berjualan buku sambil mengamati sikap, penampilan dan perilaku banyak orang. Satu yang menurutku paling mencolok adalah bank berjalan ini.
                Nyaris hampir semua penduduk dalam pasar tradisional : bersandal, pakaian “seadanya”, sebagian besar tanpa make up dan polesan apapun bahkan banyak juga yang belum mandi. Namun dari semua yang berseliweran dalam pasar itu ada kelompok yang selalu bersepatu mengkilap, kemeja berseterika licin, beberapa mengenakan batik dan semuanya juga mengenakan jaket kulit warna hitam. Di tangannya tergenggam buku kecil yang berisi catatan-catatan dan kartu-kartu para peminjam uang. Tas selempang atau ransel tak lupa mereka bawa.
                Mereka terlihat sebagai high class di dalam pasar. Mereka adalah bankir! Jangan lupa itu!
                Namun mengapa selalu berpenampilan seperti itu? Bukankah mereka jika berpenampilan sederhana dan biasa saja, juga bisa memikat hati banyak orang dengan pinjaman tanpa agunan? Bukankah lidah mereka manis? Ataukah mereka berprinsip “hakimi buku dari sampulnya?”
                Tentang profesi ini, beberapa kali aku mendengar kisah konflik antara kreditur dan debitur. Sang Bank Plecit mendatangi rumah seorang ibu rumah tangga yang memiliki hutang padanya. Dicarinya sang ibu di rumah tidak ada. Ia akhirnya menemukan ibu itu di rumah tetangga. Dipaksanya ibu itu untuk membayar hutang. Ibu itu sampai berteriak-teriak bahwa ia belum punya uang. Terus dipaksa, dan ibu itu melakukan sesuatu yang membuktikan dia tak punya uang saat itu. Ibu itu nekat membuka roknya demi meyakinkan Bank Plecit.
                Kisah lain tentang pernak pernik Bank yang satu ini saat, bank plecit mendatangi rumah “korban”nya yang juga seorang istri. Sang suami kebetulan pergi bekerja sebagai kuli bangunan di desa lain. Biasanya sang suami tidak pulang saat jam makan siang. Namun hari itu entah dia ingin pulang saat makan malam. Naluri seorang suami menemui hasil saat di depan rumahnya terparkir sebuah sepeda motor. Namun pintu depan rumahnya tertutup. Ia berinisiatif masuk melalui pintu belakang. Setelah masuk ia menuju kamarnya. Dan di sanalah ia menemukan Bank Plecit sedang melakukan yang seharusnya hanya dia yang melakukan dengan istrinya.
                Setelah diusut ternyata istrinya memiliki hutang pada bank plecit dan tidak bisa membayar. Si Bankir meminta istrinya hari itu sebagai ganti utangnya.

                Terlepas dari semua itu, mereka masih dicari karena syarat pencairan uang yang sangat mudah. Membuat profesi ini masih banyak yang menjalani. Mereka seakan menjadi bumbu penyedap dalam kehidupan.

Sunday, November 29, 2015

INFOGRAFIS

Akibat Virus Infografis

AKU DAN FLP

Tahun 2005 saya sering melihat dan memiliki beberapa buku-buku karya FLP. Saya kemudian tertarik untuk masuk FLP tapi tidak tahu caranya. Sampai Desember 2005 saya melihat iklan kecil di koran Solopos bahwa FLP Solo mengadakan seminar di Fakultas Sastra UNS. "Ini kesempatan," batinku. Tujuan awal saya ingin bergabung di FLP adalah ingin bisa menulis cerita. Maka akhir Desember 2005, saya meluncur dengan motor dari Wonogiri ke UNS untuk acara itu, kurang lebih 2 jam perjalanan. Di situlah saya pertama kali mengenal FLP. Ada narasumber Habiburrahman Al Shirazy dan Prie GS. Di sana saya kemudian mendaftar jadi anggota FLP.
Pulangnya saya kecelakaan, motor menabrak mobil pejabat yang berhenti mendadak di tengah jalan waktu hujan, bekas jahitan luka saya sampai sekarang masih ada. Tapi itu tak menyurutkan jalan saya untuk gabung FLP. Awal Januari 2006, saat sore hari saya menghadiri launching Pelat Pulpen 3 di Goro Assalam dengan pembicara Langit Kresna Hariadi. Juga bermotor. Pulangnya hujan dari solo sampai rumah di Wonogiri sangat deras. Tak peduli, harus pulang petang itu, tak ada tempat menginap.
Setelah itu, mulai Januari sampai April, tiap minggu Pelat Pulpen 3 digelar di Pesantren Mahasiswa Arroyan, dekat UNS, peserta kalau nggak salah sekitar 60 orang. Setahu saya, hanya Ranu Muda saja yang sudah tahu tentang ilmu kepenulisan, lainnya setahu saya masih nol saat masuk FLP, termasuk saya.
Tiap minggu bermotor 2x2 jam perjalanan berangkat dan kembali pulang tetap terjadi, karena itu satu-satunya cara agar saya lulus menjadi anggota FLP. Padahal itu bulan-bulan hujan, saya tak peduli dan tidak trauma dengan kecelakaan saat awal mengenal FLP. Dari FLP bahan bacaan (buku) saya mulai bertambah. Dengan mentor Mbak Izzatul Jannah, Mbak Rian, Mas Furqon (ketua FLP Solo saat itu, juga salah satu pemeran dalam film Ayat-ayat Cinta), Mas Aris Adenata, Mbak Deasylawati (novelnya saat itu Quraisy Terakhir jadi juara di Tiga Serangkai), saya jadi tahu seperti apa menulis yang baik dan benar itu.
Dan April 2006, sertifikat lulus Pelat Pulpen 3 saya genggam, saya lulus jadi anggota FLP Solo. Kini peserta pelat pulpen 3 itu yang kadang masih berkomunikasi hanya Ranu, lainnya saya tidak tahu. Semoga makin sukses dan berkah. Perasaan meledak bahagia saat hasil dari pelat pulpen, yaitu tulisanku dimuat di Solopos untuk pertama kalinya pada Agustus 2006. Sayangnya (menurutku) follow up setelah itu kurang greget, karya peserta sebagian hanya dibahas saja. Tak ada yang coba dibukukan. Hanya satu tulisan saya yang diikutkan sayembara dan masuk di Antologi Cerpen Joglo 4. Setelah itu, tak tahu harus bagaimana lagi. Dan semakin lama, sayapun hilang kontak dengan FLP, sampai tahun 2012/2013 saya lihat FLP Solo di FB.
Pelat Pulpen Reformasi, yang saya lihat. Ternyata banyak sekali peserta yang telah mengenal dunia kepenulisan sebelumnya, bahkan memiliki karya yang sudah malang melintang di media massa. Lebih hebat lagi sudah memiliki buku. Ada yang antologi dan ada yang dengan nama pribadi. Dan ada yang mengelola web pemerintah. Dahsyat! Saya jadi minder dengan mereka, tulisan masih belum banyak, dimuat di media baru segelintir. Tapi saya ingin terus belajar pada siapapun hingga bisa bermanfaat. Seperti tagline FLP "Berbakti, Berkarya, Berarti."
Kecintaan pada dunia menulis semoga tetap istiqomah. Semoga follow up dari Pelat Pulpen reformasi ini lebih banyak memfasilitasi semua anggota, sehingga semangat anggota terus tumbuh hingga bisa mandirid dan berkarya lebih baik lagi.
Maaf jika ada kalimat yang kurang berkenan. Wallahu'alam bishowab.

TRAGEDI SORE

Saat tiba kehancuran ini

Melihat tenang yang terbujuk

Melangkah kecil, pergi

Untuk kemudian aku juga menjauh

Dalam sujud ada petir

Tangis mendobrak dan mengiris

“Tenanglah, Nak.

Dari sini sekuntum cinta akan selalu kami berikan.”

03092014

Puisi di atas saya beri judul "Tragedi Sore" yang saya tulis dalam perjalanan sesaat setelah pergi meninggalkan Reri untuk bekerja.
Ada rasa sedih ketika seorang ayah harus pergi meninggalkan anaknya yang baru berusia 3 tahun di rumah kakeknya. Sementara sang bunda belum bisa pulang, karena kami, ayah dan bundanya harus bekerja ke kota.
Sebenarnya sudah kami sudah berjanji pada pengasuhnya untuk merawat anak kami selama kami bekerja. Namun kakeknya ingin juga merawat sang cucu. Makanya selain ingin memberi pekerjaan pada pengasuhnya, kami ingin ada yang fokus untuk menjaganya saja.
Bagi kami, bukannya tidak suka anak kami diasuh kakek-neneknya. Hanya saja mereka sudah merawat cucunya yang lain dengan usia yang sama dengan Reri. Bukankah itu akan sangat merepotkan?
Sesaat sebelum saya kembali bekerja, Reri dibujuk kakeknya untuk diajak jalan-jalan. Reri sebelumnya berkali-kali mengatakan, "ikut ayah."
Mendengar ucapannya itu, hati saya terharu. Tapi setelah sekian lama, saya tak mendengar suaranya. Saya berlari keluar rumah dan ternyata dari kejauhan Reri berjalan kecil terbujuk oleh ajakan kakeknya.
Dalam sholat asar, tak terasa butir-buti air menetes di ujung mata saya mengingat Reri. Seakan ada rasa dipisahkan dengan anak.
Saya kuatkan hati, untuk kemudian juga pergi ke kota membawa keperihan terbujuknya Reri. Dan kemudian sebuah janji terucap,“Tenanglah, Nak. Dari sini sekuntum cinta akan selalu kami berikan.”

Apa yang saya rasakan mungkin tidak terjadi pada semua ayah di seluruh dunia, tapi pergi meninggalkan anak tanpa pamit (atau dalam bahasa jawa : nilapke) merupakan sebuah tragedi, sebab saya tak setuju dengan perbuatan itu. Seakan-akan memberi pelajaran berbohong pada anak. Hal itu tentu akan selalu diingat sang anak. Lebih baik pamit biarpun anak nangis daripada memberi pelajaran kebohongan.
Itu pendapat saya.

SIAPAPUN BISA SUKSES

INSPIRASI PAGI


Solo, 18/04/2014
Baru saja di kantor kedatangan teman yang dulu sempat jadi teman kerja. Saat masih satu kantor di SMA ini, dia bertugas menjaga kebersihan dan konsumsi. Karena kemampuannya di bidang elektronik, dia sering diminta memperbaiki kipas angin, pompa air atau lampu. Dia sering mengantar printer atau komputer kantor yang rusak ke tempat servis dan pernah seorang guru memintanya memperbaiki mobil remot mainan anaknya untuk diperbaiki, semua berhasil diperbaikinya. 
Kemudian beberapa bulan yang lalu dia keluar dan kabarnya pindah kerja di pabrik. Namun saat dia datang hari ini, saya tanyakan kegiatannya sekarang, diapun menjawab bahwa dia sekarang bekerja di Bandara Adisumarmo Solo sebagai bagian dari karyawan yang bertugas memperbaiki elemen pesawat terbang yang rusak. Diapun sering melanglang nusantara, dari bandara satu ke bandara yang lain. 
Luar biasanya dia tidak melamar kerja, tapi diminta untuk kerja disana.Pendidikannya pun sama dengan saya, tidak tinggi, namun Dia mampu memaksimalkan kemampuanya dalam bidang elektronik. Satu pelajaran yang bisa saya ambil, apapun pendidikan kita, jika kita mampu mengembangkan potensi yang ada pada diri kita secara maksimal dan ikhlas, kita akan mampu mendapatkan hasilnya, bahkan mungkin kita mampu menggenggam dunia!

SPG JUGA MANUSIA

Solo (September 2014)

Di sebuah mall di Solo ketika waktu sudah menapaki malam. Seorang wanita cantik berdiri di depan sebuah stand pakaian. Jelas dia adalah seorang SPG. Tak ada yang aneh memang. Sebagian orang mungkin akan memandang sebelah mata padanya, dan sebagian lagi memandang dengan mata penuh, mungkin karena apa yang dipakainya.
Dan saya melihat dari sudut pandang yang lain. Karena sebuah sebab. Dia wanita dan tentunya calon ibu, bisa jelas terlihat dari keadaannya yang hamil, perutnya membesar dibalut pakaian ketatnya.
Apa yang bisa diambil darinya? Sekali lagi kita lihat dari sudut pandang yang lain. Dengan keadaan seperti itu, dia tetap bekerja, berdiri sepanjang jam dengan beban di perutnya. Bekerja tak kenal waktu demi mendapatkan uang untuk persalinannya kelak. Ini demi siapa? Demi calon bayinya. Tak usah bertanya kemana suaminya. Lagi-lagi kita lihat dari jendela lain yang terbuka.
Ada sisi yang hancur dari sebuah kemanusiaan ketika melihat itu. Mungkin ada yang menghujat dan memicingkan mata padanya. Tapi mereka memberi solusi apa? Mereka memberi makan dia? Ah jangan harap. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari semangatnya dan tahan ujinya seorang SPG.

Sunday, September 20, 2015

#KAMPUSFIKSI 13 (3, HABIS) : Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Jogja



Hari Sabtu 29 Agustus 2015 sampai dengan Minggu, 30 Agustus 2015 #KampusFiksi penuh dengan kegiatan pencarian dan penggalian serta pelatihan juga pengasahan ilmu tentang kepenulisan. Mulai dari tips menulis hingga keredaksian. Mulai dari EYD hingga marketing. Semua dikupas, dibedah, dibahas dalam gedung #KampusFiksi yang megah ini.
Diawali sejak pagi nan ceria, mentor Nisrina Lubis menelanjangi para peserta agar mengungkapkan apa passion penulisannya dan tema apa yang menjadi kegemarannya. Lalu ditulislah oleh semua peserta sebuah tema yang nanti siang akan dieksekusi dalam sebuah cerpen.
Dilanjutkan oleh Rektor #KampusFiksi, Edi Akhiles – yang sebelumnya saya menduga tentang nama Akhiles ini adalah salah satu nama dalam tokoh film favoritku sampai saat ini yaitu film Troy, dimana tokoh Akhiles diperankan oleh Brad Pit, yang menginspirasi terciptanya kuda Troy dalam strategi perang Yunani. Ternyata dugaanku ini nyaris menemui kebenaran ketika membaca salah satu bukunya yang memberikan dalil dari kisah film Troy.
Pak Edi memberikan pencerahan tentang dasar-dasar kepenulisan yang detail, seperti :
  1. Pengetahuan seorang penulis itu harus luber sebelum memulai tulisan, hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan data yang mengakibatkan tulisan nampak dangkal
  2. Menulis itu membutuhkan imajinasi, bukan sekedar khayalan. Beda imajinasi dan khayalan adalah kalau imajinasi itu membuat dunia imajiner menjadi terlihat nyata. Contohnya, dunia fiktif Harry Potter, begitu nampak nyata meski itu tidak pernah ada.
  3. Menulis fiksi itu harus ditopang dengan teknik, imajinasi dan estetika kepenulisan.
Itu tiga diantara banyak ilmu tingkat tinggi yang dibeberkan dalam #KampusFiksi ini hingga mencapai klimaks dan membuat ending yang hot dan menggelora. (Opoo kuwi?)
Penjelajahan ilmu-ilmu menulis dilanjutkan oleh kru #KampusFiksi dan DivaPress yang kami panggil dengan Mbak Najjah, beliau ini membeberkan tentang follow up setelah kita selesai menulis, yaitu self editing atau mengedit sendiri tulisan yang telah kita buat. Apa saja yang harus diedit. Yang dilanjutkan dengan menulis cerpen dengan waktu maksimal 3 jam dengan tema yang tadi telah peserta utarakan diawal waktu.
Malam menjelang. Peserta yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok dikumpulkan oleh mentor masing-masing kelompok. Salah satu mentor adalah Pratiwi Utami yang biasa kita sebut Mbak Tiwi mengevaluasi kelompokku yang berisi, Bening, Amin Sahri, Devi dan Fariha. Di sini kembali ku pungut ilmu tentang tata bahasa bahwa kata tanya dalam kalimat iutu tidak perlu dipakai. Misalnya : Entah siapa, entah apa. Entah itu masuk dalam kata tanya, jadi dibuang saja jika terdapat dalam kalimat. Kemudian penulisan judul buku menggunakan font italic. Dan beberapa ilmu tata bahasa Indonesia yang lainnya.
Malam mulai larut, pertemuan hari pertama diakhiri dengan comedi show, eh bukan ding, stand up comedi? Bukan juga, tapi curhatan kesuksesan para alumni #KampusFiksi terdahulu yang sudah mengerami naskah-naskahnya dengan baik.
Hari kedua pagi-pagi  kegiatan diawali oleh Mbak Munal yang mengupas tuntas tentang keredaksian. Perempuan lincah ini memberitahu bagaimana ketentuan naskah yang diterima oleh penerbit Divapress itu dan bagaimana tata letak pengetikan dan pengirimannya.
  1. Tentang naskah fiksi harus disertai dengan sinopsis yang terpisah dari file draft naskah.
  2. Naskah sastra sebanyak 250 – 400 halaman A4, naskah teenlit 120 – 180 halaman A4.
  3. Margin 4-4-3-3, spasi 2, font TNR 12.
  4. Naskah nonfiksi disertai daftar isi, keunggulan naskah dengan banyak halaman 150 – 250 A4.
  5. Naskah anak sebanyak 50 halaman A4.
  6. Untuk naskah-naskah tersebut bisa dikirim melalui pos atau email.
Selain itu juga dibahas tentang sistem kontrak dan royalti untuk penulis. Penerbit Divapress juga menerima naskah resensi buku Divapress yang dimuat di media massa. Penulis resensi akan mendapat reward dari Divapress, yaitu bukan umroh gratis atau naik haji. :-D
Selanjutnya dengan diselingi ngopi dan ngemil, pelajaran dilanjutkan tentang kurikulum Marketing oleh tim marketing Divapress yang sudah berpengalaman menjadi marketing di Trans media. Beliau, Mas Indra Gunawan mengutarakan bermacam-macam teknik marketing, mulai yang umum sampai rahasia.
Setelah itu datanglah bintang tamu keren, gokil dan sang pengamal puasa Daud yaitu Bang Joni Ariadinata mengisi ruang kelas dengan begitu super hingga tak ada satu catatan pun yang mampu kutulis. Bukan karena tidak ada, tapi karena pesan yang kutangkap dalam ceritanya begitu banyak dan padat. Beliau bicara out of the box. Beliau bercerita, namun di dalam cerita itu banyak pesan yang disisipkan, mulai tentang tips menulis sampai pesan moral.
Satu yang selalu kuingat dan bahasanya kuolah sendiri adalah bahwa menulis yang mencerahkan itu tidak harus menjadi “ustadz” dengan berbagai macam dalil yang “ndakik-ndakik”. Atau untuk mengajak orang menjauhi maksiat tidak harus menjadi ustadz yang kini menjamur berlabel ustadz artis. Mana bisa? Bisa saja. Contoh cerpen bang Joni yang menjadi karya terbaik Kompas yang menceritakan sebuah kamar di sebuah lokalisasi dengan begitu detail. Tulisan itu hanya menceritakan sebuah kamar dengan segala yang ada di dalamnya yang jika dirasa begitu “menjijikkan”. Hal itu membuat salah seorang yang hobi memasuki kamar itu untuk melepas hasratnya menjadi enggan dan menjauh dari tempat tersebut.
Semester terakhir dari kuliah ini diakhiri dengan pelajaran yang saya sebut sebagai jurus pamungkas oleh editor Divapress, Mbak Rina. Sehabis itu, foto-foto, penerimaan ijazah dan souvenir plus oleh-oleh berupa 56 buku gratis dari Divapress.
Banyak yang bilang, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Namun perpisahan di sini tidak diisi dengan banjir air mata, tapi banjir tawa, karena ditampilkan candid camera dengan wajah-wajah lucu dan pose-pose seronok (Hah? Ngapusi) para peserta #KampusFiksi.
Peserta kemudian ada yang langsung pulang kembali ke belantara dunia masing-masing ada yang menunggu hingga esok tiba. Bersama Iken Widya, Riza Chanifa dan suaminya, aku diantar kru Divapress, Mas Kiki menuju stasiun Tugu pagi harinya. Kami menuju solo dengan menguasai 1 gerbong penuh setelah berjalan tertatih-tatih dan terseok-seok memutari Stasiun Tugu karena salah loket.

I will miss u #KampusFiksi, I’ll miss u Jogja...

Wednesday, September 2, 2015

#KAMPUSFIKSI 13 (2) : Fil Ma’had #KampusFiksi


Waktu terus berlalu meninggalkan aroma gudeg di Stasiun Tugu. Aku telah duduk di pesantren/boarding school/ma’had #KampusFiksi menikmati sedapnya cita rasa nasi goreng dengan porsi mblenger bersama peserta lain.
Saat itu telah hadir lebih dulu, Maulida Azizah dari Kalimantan, Khusnul Khotimah dari Lombok, NTB, Ginanjar Teguh Iman, Shasmita yang datang diantar ayahnya yang supel dari Malang, juga Iken Widya dari Salatiga yang seorang bankir dan Hidayatur Riyana (mungkin Rihana penyanyi internasional itu nama panjangnya juga Hidayatur Rihana. #Dipaspasin). Mereka, beberapa diantaranya adalah seorang penulis yang telah memiliki karya.
Lalu seiring waktu berjalan, satu persatu peserta lain menyusul hadir, dari Madura Aswari dan si mungil Nur 1 / Mila, serta dari beberapa daerah lain yang masih kuliah di Jogja seperti Patrio dari Toraja (kelak kami tahu budaya Toraja yang wow dan misterius darinya). Juga Bening Ika (aku sudah kenal sebelumnya karena sama-sama anggota FLP Solo) dan Amin Sahri seorang pedagang buku online (makanya dia wawasannya luas) dari Cilacap. Riza Chanifa yang datang bersama suaminya dari Mojokerto, ibu guru Rialita dari Jombang. Serta Munawir, Devy, Farihatun Nafiah, Nur 2 dan Nur 3 (ternyata dia –anggaplah tetangga desaku – berasal dari Sampung Ponorogo. Perbatasan desanya adalah desaku). Sampai genaplah 25 peserta (sebenarnya 24, peserta dari Tangerang mengundurkan diri). Mereka datang tepat sebelum batas waktu yang ditentukan.
Lalu betapa riuhnya 25 orang disatukan dalam sebuah gedung yang tidak terlalu besar namun bersih dan nyaman ditambah beberapa panitia (dan sehari setelahnya datanglah puluhan alumni #KampusFiksi yang telah sukses). Saling bercerita tentang daerahnya atau sekedar sharing tentang kepenulisan, atau hanya ngerumpi tentang K-Pop atau artis.

Tentang Keangkeran Old Trafford di #Kampus Fiksi
Nah, sampai di sinilah aku makin tahun bahwa Rektor #KampusFiksi adalah seorang Manchunian akut. Seperti halnya aku (tapi aku biasa aja, tidak parah-parah banget menggilai Manchester United). Pak Edi, sang rektor itu membuat gedung #KampusFiksi bak stadion Old Trafford, kandang MU yang angker bagi tim lawan, khususnya Liverpool. Keangkeran “Old Trafford” ini terbukti bagi Liverpool saat salah seorang peserta penggemar Liverpool tidak berani mengenakan jersey kesayangannya di gedung ini, hanya berani mengeluarkan handuknya yang bergambar logo Liverpool. Handuk yang dijemur itu berkali-kali jatuh dari jemuran Stadion ini.
Kedua, saat H-1 pelaksanaan #KampusFiksi ini terjadi pertandingan MU vs Swansea dan MU kalah 1-2, fans Liverpool dan Chelsea yang akan bertanding kemudian akan berteriak, “Sukurin!” Maka karma akan segera terjadi tidak lama lagi, dari gedung ini doa Manchunian terkabul. Chelsea kalah 1-2 melawan Crystal Palace dan Liverpool lebih telak lagi, dihajar Westham 0-3.
Nah, betapa angkernya Old Trafford van Bantul ini? Ini tempat yang mustajab (?)

Budaya Indonesia yang Luar Biasa
Salah satu yang menarik di #KampusFiksi adalah cerita-cerita lokalitas pesertanya. Salah satunya tentang adat di Toraja dalam upacara kematian/pemakaman. Memang, sering diberitakan di TV akan kekayaan adat di Toraja, tapi feel-nya baru terasa ketika yang bercerita adalah penduduk Toraja asli, yaitu kawan kami, Patrio Tandiangga. Untuk melakukan upacara pemakaman, warga Toraja asli (belum tersentuh peradaban modern) akan menghabiskan dana lebih dari 100 juta. Kenapa? Karena harus menggunakan kerbau belang + 100 kerbau lain. Harga 1 kerbau belang adalah 100 juta, belum kerbau yang lain. Fantastis!
Toraja makin misterius dengan hidupnya moyang mereka yang telah meninggal dunia. Jenazah-jenazah yang telah dimakamkan dalam goa-goa di gunung (seperti yang diinformasikan di TV) sewaktu-waktu bisa berjalan dengan sendirinya dengan rambut dan kuku yang masih terus tumbuh. (Ah nggak berani nerusin cerita ini. Ngeri).
Pindah pulau ke Lombok, ini yang ringan-ringan saja. Setiap bertemu dengan orang, penduduk di sana memiliki sapaan yang khas, “Mari makan.” Lha bukannya menyapa apa kabar atau yang lain, malah ngajakin makan. Itulah budaya, itulah adat, nggak perlu diperdebatkan. Kita itu kaya, jangan merasa lebih baik dari yang lain. (Halah, ngomong apa ini?).
Oh ya, tentang Lombok ini, selama ini aku telah disesatkan dan penuh bid'ah dari pemikiranku sendiri. Bahwa kata Lombok itu berasal dari cabe yang pedas itu, ternyata bukan. Lomok berasal dari lombo yang berarti lurus. Nah, so pesan moralnya, jangan suka menafsirkan seenakmu sendiri, apapun itu.
Terbang ke Madura (berlayar aja ding), Sumenep tepatnya. Sapaan yang sama juga terjadi di Madura, namun di Madura lebih tragis lagi, setiap tamu yang datang dan, misalnya bilang, “buah kelapamu banyak ya?” Maka sang pemilik rumah akan segera memetik kelapa buat tamunya. Padahal tamu itu tidak minta, hanya karena kekaguman akan tanaman yang banyak buahnya itu. Orang Madura yang senang menjamu tamu, mereka akan menghidangkan makanan, mereka akan mencari makanan demi menyenangkan si tamu. Lalu ketika tawaran makan ditolak si tamu, hati mereka akan sedih, mereka berpikir makanan yang mereka hidangkan tidak enak. Pesan moralnya adalah : Seperti halnya mereka telah menghormatimu, maka hargailah juga orang lain.
Demikian juga tentang Banjar, Kalimantan yang memiliki adat gelang perdamaian/persahabatan. Ah yang ini aku kurang begitu jelas mendengarnya. Lain kali tanya lagi kalau ada waktu ketemu Maulida Azizah.
Kaya ya Indonesia itu?


Monday, August 31, 2015

#KAMPUSFIKSI 13 (1) : On The Road


Ketika menyertakan cerpenku untuk seleksi peserta #KampusFiksi, aku sangat sangat nothing to lose. Karena cerpen "Anjing itu Menyalak" pernah mendapat kritikan tajam di sebuah komunitas sastra Alit di Solo. Tapi ingin kubuktikan bahwa dengan cerpen itu bisa ikut #KampusFiksi, setidaknya alur cerita dari cerpen itu runtut, terlepas dari tema surealis yang tanggung.
Baiklah, singkat cerita akhirnya cerpenku itu benar-benar lolos seleksi. Ada faktor luck di sana di samping yakin bisa, karena banyak yang nggak lolos atau lolos setelah berkali-kali ikut seleksi.
Sebenarnya aku tergabung di #KampusFiksi 14, karena ada peserta yang mundur di #KF 13, maka aku maju. Dan, hari Jum'at, 28 Agustus 2015 setelah menempuh perjalanan menggunakan motor selama 2 jam dari Wonogiri, sampai di Stasiun Purwosari Solo, untuk menaiki Prameks menuju Jogja.
Di Stasiun Purwosari, kulihat wajah yang familiar diantara para penumpang, tapi abaikan saja, mungkin hanya de javu. Maka setelah kurang lebih 1,5 jam, sampailah di Stasiun Tugu Jogja dan menunggu jemputan dari pihak #KF DIVA Press. Wajah perempuan yang familiar ketika di Stasiun Purwosari kembali kulihat di ruang tunggu Stasiun Jogja.
Setelah sekitar 1 jam menunggu, akhirnya jemputan itu datang juga. Di situ baru jelas bahwa perempuan yang kulihat sejak di Stasiun Purwosari itu juga salah satu peserta #KF 13, kelak ketika sudah masuk asrama #KF13 aku tahu namanya Iken bersama Riyanna.
Jum'at petang, satu persatu peserta #KF 13 mulai berdatangan. Makanan favoritku, nasi goreng menyambut. padahal di Stasiun Tugu yang menyambutku adalah aroma gudeg.
Mulai malam ini hingga 2 hari ke depan, ilmu kepenulisanku akan bertambah. Pasti, karena aku pasti bisa!

Sunday, April 12, 2015

DI MALAM 3 SARIRA


Solo (10/4/2015) Mengulas buku puisi dari penulis berpengalaman? Sebuah hal yang sama sekali tidak saya pikirkan namun terjadi juga ketika saya menyetujui untuk mengulas buku puisi "Mengemas Kenangan" karya Yuditeha dan Lusi Kristiana di Balai Soedjatmoko, 10 April 2015 kemarin.
Pada kesempatan itu, hal yang saya takutkan adalah nervous. Sebagai seorang pemula dalam dunia kepenulisan dan berbicara di hadapan banyak penulis berpengalaman adalah hal pertama dalam hidup, bukan sebagai pembaca, tapi sebagai "pembicara" yang menguraikan apa yang terkandung dalam buku puisi tersebut.
Awalnya memang nervous, tapi setelah berjalannya acara, muncul juga rasa percaya diri bahwa saya bisa, saya bisa, saya bisa.
Dengan mengutip resensi puisi Mengemas Kenangan yang saya tulis beberapa waktu yang lalu, saya mengulasnya di malam itu sebagai berikut :
KEMASAN INDAH SEBUAH KENANGAN
Puisi seperti halnya budaya adalah karya adilihung yang tercipta dengan pendalaman pikiran begitu matang.Puisi menurut HB Yassin adalah pengungkapan dengan perasaan yang berisi pikiran dan tanggapan-tanggapan.
Mengenang sesuatu dan mengemasnya dalam ruang hati yang khusus menjadi sebuah kenikmatan tersendiri. Ada air mata yang tumpah saat melihat foto penuh kenangan. Dalam diam melamun pun ada yang terlintas untuk dikenang. Dalam kesibukan pekerjaanlah kenangan-kenangan yang mengumbar air mata itu dapat dikendalikan, karena dalam menganggur segalanya bisa bermunculan. Lalu hanya doa yang terlantun agar semua kenangan itu dapat mengajarkan untuk bisa menjalani hidup dengan lebih baik.


Dalam kutipan puisi Lusi Kristiana yang judulnya diambil untuk judul buku antologi puisi ini, “Mengemas Kenangan”, penulis yang juga seorang guru dan barista handal ini menuliskannya sebagai berikut :

Apa yang ingin kau pisahkan

dari foto-foto manis

kenangan ini

mungkin tak seperti ketabahan sunyi

yang aku pinjam

untuk mengasuh air mataku

Lusi Kristiana begitu lihai mengungkapkan diksi hanya dari melihat foto-foto kenangannya hingga pembaca menemukan feel saat membaca puisi tersebut.
Tentang kenangan ini juga melahirkan rasa pedih dan seakan lupa pada masa lalu karena perubahan yang terjadi. Hal ini terungkap pada puisi Yuditeha (penulis novel Komodo Inside) yang berjudul “Kenangan” :

Sejak kapan kuraih mimpi itu?

Aku lupa.

Pertemuan itu telah menusukku.

Perih.

Pada sukma yang tergambar

Di jantungku.


           Yuditeha tahu betul bahwa kenangan seperih apapun bisa menimbulkan keindahan jika diabadikan dalam sebuah puisi, seperti halnya puisi di atas.
Antologi puisi ini adalah duet dua orang penulis sekaligus penyair yang tulisannya sudah malang melintang menjelajahi nusantara, Yuditeha dan Lusi Kristiana menuangkannya secara apik mulai dari hubungan antar manusia, tentang cinta, tragedi, bencana. Tentang agama dan ketuhanan juga tentang rasa kagumnya pada penulis terdahulu. Seperti sebuah nama “Pram” yang ditulis dalam sebuah bait, bisa jadi itu adalah Pramoedya Ananta Toer, sebab kata setelahya ditulis “akan bebas” yang kita tahu Pram adalah penulis hebat yang juga mantan tapol. Berikut kutipan dari puisi Yuditeha yang bertajuk “Sejarah” :

Berbeda satu jam sesudahnya.

Aku tertidur di senja hari, pipis lalu lelap lagi

dan kembali pulang setelah pidato kedua.

Semuanya sudah pasti tadi pagi.

Pram akan bebas.

Setelah semuanya membaca

masa lalu yang tak sia-sia.


Tidak hanya itu, adanya manusia di dunia ini pasti karena Kuasa Tuhan, Lusi Kristiana rupaya cukup religius. Puisi-puisinya sering yang menyangkut cinta pada Tuhan. Contoh kecil pada “Melati di Barisan Pohon Pinus”, dia menulis :

Wahai semesta cinta kasih

Curahkan cahaya cinta-Mu

Menerangi kegelapan ranah hidupnya.


Seperti kata Arswendo Atomowiloto, bahwa salah satu tugas penulis adalah mencipta bahasa, Lusi Kristiana sepertinya tahu betul tugas itu dengan menyebut nama Tuhan dengan kata Semesta. Bagi saya itu sebuah kosakata baru yang begitu indah.
Pada sisi yang lain, antologi puisi ini juga mengetengahkan rasa prihatinnya pada bencana yang menerpa tanah air ini. Dalam “Musibah”, Yuditeha membaca bencana banjir yang menerjang, di puisi ini, dia juga menuliskan ironi dalam musibah yang datang, dengan menyentil pembuat video tentang bencana ini.

Hujan telanjang melahap daratan.

Hingga malam memanggilmu.

Tapi kau malah pergi ke berjuta-juta mata

Menciptakan video.


Tak hanya itu, banyak lagi tema-tema kehidupan dan keluarga. Tentang orang tua, kadang mengkhususkan tentang ayah dan tentang anak. Juga hak-hak hidup kita sebagai manusia dan warga negara yang semua bermuara pada kehidupan.
Sejatinya antologi puisi ini bukan duet, dua orang yang mencipta satu puisi, tapi dua orang yang menggabungkan karya-karya mereka dalam sebuah buku. Meski sederhana, tapi dua penulis ini mampu membuka mata bahwa kita tak bisa lepas dari sebuah kenangan. Mereka mampu meluaskan makna kata, tanpa ada kata yang sia-sia. Karenanya, semua kenangan tersebut telah dikemas dengan indah.
Hingga akhirnya berakhir juga bedah 3 antologi puisi di Balai Soedjatmoko dan kini saya menunggu acara selanjutnya di TBJT Solo 24/4/2015 untuk launching antologi buku puisi saya.