Monday, May 7, 2018

LELAKI DI BELAKANG KEMUDI EKSKAVATOR

Sabtu, 5 Mei 2018


“Bagaimanapun juga, kita tidak bisa bertahan lagi di tempat ini.” Hening dan muram berbalut make up tebal diantara mereka. “Meski peluh kita bercucuran mempertahankannya, tapi mereka lebih punya kuasa!” Perempuan muda memberi wacana dalam kelompok masyarakat di bangunan yang berdiri di tepi sungai.


Bangunan-bangunan yang rapat dihiasi kerlap kerlip lampu itu, kini menjadi riuh oleh kabar yang semakin kencang beredar. Lampu-lampu yang beragam warna, malam ini seakan tak mampu memeriahkan kampung di tengah kota ini seperti malam-malam sebelumnya.


“Ini malam terakhir kita di sini. Nikmatilah. Dan besok kita akan berjuang!” Make up perempuan muda itu belum sepenuhnya luntur saat sia undur diri setelah menerima pesan singkat di telepon genggamnya.


***
Meski kampung itu dirundung gelisah, namun aktivitas malam – yang disebut sebagai malam terakhir –   itu tidaklah berhenti – belum benar-benar berhenti.

“Kau tahu, sudah berkali-kali kau menemuiku dan berakhir di ruang ini,” Kurantil, perempuan muda itu duduk di sisi ranjang. “Dan kau tidak melakukan apapun atas diriku.”


“Ya. Seperti yang sering kubilang, aku merasa nyaman bicara denganmu.” Lelaki tegap dihadapannya itu menjawab. “ Dan aku juga membayarmu seperti yang lain.”


“Aku tidak peduli seberapa nyaman dirimu, denganku atau yang lain. Karena cemburu itu bukan wilayahku.”


“Ada atau tidak tempat ini, aku harap kamu tetap ada saat aku membutuhkanmu.”


“Lupakan. Mungkin ini terakhir kita bertemu.” Kurantil menahan amarah. Lelaki di depannya ini bagaimanapun juga terlibat akan kelangsungan hidupnya.


“Tidak! Mengertilah. Kau akan ada di tempat yang jauh lebih layak dari tempat ini. Seperti yang kumau, kita pergi dari sini.”


“Sudahlah. Ini terakhir kita bertemu. Selesaikan seperti lelaki lain segera. Kau tak pernah melakukannya.”


Lelaki itu hanya diam tak melakukan yang disarankan Kurantil. Ia mengusap wajahnya dengan tangan. Lalu menatap wanita itu dengan tatapan memohon.


Tapi Kurantil sadar bagaimana posisinya saat ini – seperi dalam buku ‘Perempuan di Titik Nol’ yang pernah dibacanya – polesan wajah, pakaian dan aksesoris yang dikenakannya berada di kalangan atas. Bahkan ia merawat wajah dan tubuhnya di tempat dimana para kalangan atas – di dalamnya termasuk pejabat, pengusaha dan beberapa artis – juga merawat wajah dan tubuh mereka. 


Namun bila ia melihat dimana dia mengakhiri pendidikannya, tidak bisa dibilang Kurantil berpendidikan tinggi, meski tidak setinggi pendidikan lelaki berkumis di hadapannya ini, namun  tak juga berpendidikan rendah. Hanya ijasahnya saja yang menandakan bahwa ia berada di kalangan menengah.


Tapi, semua orang mengakui, tempatnya kini dan apa yang dilakukannya demi hidup yang dilaluinya, Kurantil sadar berada di kalangan rendah yang terpinggirkan. Meskipun begitu, semua kalangan termasuk Tambir, lelaki itu selalu mencarinya hanya untuk beberapa jam saja. Meskipun Tambir mencarinya dengan maksud yang berbeda.


“Aku tidak bisa mencegah penggusuran besok. Tapi aku bisa membawamu, meninggalkan tempat ini. Malam ini.” Tambir menunduk.


Kurantil menitikkan air mata dan disekanya dengan cepat sebelum Tambir melihatnya. Ia teringat kawan-kawannya yang berkumpul tadi. Kawan-kawan yang memilih kampung ini sebagai muara nasibnya. Yang sedia dianggap kaum rendah dan sampah masyarakat. Demi hidup yang akan terus berlangsung.


Ia tatap Tambir, seketika ia terseret pada sebuah perasaan yang sulit dicegah. Tambir yang sejak awal menemuinya beberapa bulan yang lalu, tak sekalipun melakukan yang seharusnya dilakukan saat wanita seperti dia membuka harga dirinya.


“Sejak mengenalmu. Aku berjanji akan berhenti melakukan itu. Kau berperan mengubahku,” kata Tambir kemudian.


Sejak pertemuan pertama dengan Tambir dan dilanjutkan hingga pertemuan yang berkali-kali, lelaki itu hanya mengajaknya bicara seakan untuk meluapkan segala beban hidup dan pekerjaannya. Hingga Kurantil tidak merasa bahwa beban hidupnya jauh lebih berat daripada Tambir. Dari Tambir jugalah, ia merasa diperlakukan sebagaimana layaknya manusia biasa, bukan perempuan yang dianggap menjijikkan.


Sekian lama bertemu, Tambir kemudian mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah ia impikan saat ia terjun dalam dunia yang digeluti ini, “Menikahlah denganku.”


Mengingat itu, Kurantil merasa melayang, harapan yang tak pernah diimpikannya membuatnya melambung. Namun ia sadar perempuan macam apa ia dan tidak memberi jawaban pasti atas keinginan Tambir. Hingga malam sebelum penggusuran ini, harapan itu masih saja membumbung.




Ia lihat ketulusan di mata Tambir, sebab ia sudah terbiasa menatap mata banyak lelaki dari dekat, ia hapal mana mata yang jujur dan dusta. Kejernihan mata Tambir mengatakan sebuah kejujuran dan ketulusan. Namun ia kemudian kembali menginjak bumi, ia tidak mungkin meninggalkan kawan-kawannya yang tertindas. Apalagi ia tadi sempat mengatakan akan berjuang meski kemungkinan berhasil itu kecil. Ia akan berada di garis depan demi membela kepentingan kaum marjinal seperti mereka.


Kurantil meremas rambutnya. Dilema ini sungguh sulit dijawab. Suasana hening sejenak, meski dentuman musik-musik terdengar dari luar. Kurantil menatap tajam mata Tambir. Ia menghela napas panjang.


“Sejak kau memberiku impian indah itu, aku belum menolak atau menyetujui. Kau mestinya tahu kenapa. Tapi ...” Kurantil menunduk, “Hanya kau yang tak pernah menganggapku sebagai  kupu kupu malam,” lanjutnya seperti bisikan.


Keduanya terdiam, suara tawa orang-orang di luar terdengar dari dalam ruang bersekat triplek ini. Selebihnya di ruang yang remang ini, hanya sunyi yang ada.


Kalimat terakhir di depan kawan-kawannya tadi sebelum menerima pesan singkat dari Tambir seakan butuh pertanggungjawaban. Besok ia akan kembali mengobarkan semangat mempertahankan kampung yang telah ditinggalinya selama bertahun-tahun.


“Aku tetap menunggu jawabanmu, dan harapanku tidak pernah padam. Tapi besok, tugas mesti dijalankan.” Tambir berdiri dan pelan berjalan lalu menutup pintu dengan perlahan.


Kurantil yang masih duduk di sisi ranjang, kini melepaskan tangisnya.


***
Kerumuman orang, baik laki-laki maupun perempuan – termasuk Kurantil  sudah menghadang kedatangan Satpol PP sejak pagi. Mereka terus meneriakkan penolakan penggusuran yang dilakukan pemerintah kota atas kampung mereka.
Peluh mereka bagai hujan yang teramat deras saat apa yang ditunggu tiba. Rombongan Satpol PP disertai beberapa ekskavator dan dikawal ratusan polisi telah mendekat di kampung mereka. Mereka merangsek maju menghadang aparat tersebut.


Kurantil berlari maju dan mengobarkan semangat pada penghuni kampung itu, bahwa mereka tidak bisa digusur seenaknya saja. Ia menatap tajam lelaki-lelaki berseragam yang membawa pentungan dengan posisi siaga menyerang itu. Juga tak luput dari pandangannya kendaraan-kendaraan berat yang siap menghancurkan kampungnya.


Matanya kemudian tertuju pada sosok di belakang kemudi ekskavator. Ia merasa luluh menatap lelaki itu. Lelaki yang semalam bersamanya. Lelaki yang siap mengangkatnya pada posisi yang lebih baik jauh sebelum keputusan penggusuran ini dieksekusi. Lelaku yang dari matanya terpancar pesan ketulusan tanpa merendahkan dirinya.


Dari mata lelaki itu pula, kini terbaca pesan permohonan maaf dan meminta jawaban atas harapan Tambir. Kurantil terdiam saat itu hingga keakuannya digedor-gedor kawan-kawan seperjuangannya setelah hatinya diketuk dengan begitu lembut oleh Tambir.


Namun gedoran itu semakin kuat kala belalai ekskavator yang dikemudikan Tambir menghantam bangunan yang semalam ia dan Tambir berada di dalamnya. Sekilas ketika melakukan itu, mata Tambir penuh api. Dan gemuruh massa melemparkan batu pada aparat yang bertugas. Kerusuhan tak dapat dihindari. Kurantil juga terbakar emosinya, bersama warga kampung merangsek maju menyerang petugas. Hingga sebuah pentungan tepat mengenai kepalanya dan ia terjatuh. Pandangannya kabur saat dari sebuah ekskavator turunlah Tambir dan berlari menghampirinya, dan membawanya ke tempat yang lebih sejuk.


Selebihnya, saat bibir Tambir hendak mengatakan sesuatu, pandangan Kurantil menjadi gelap.


Tentang Penulis 


Danang Febriansyah, Karyanya berupa cerpen dan resensi buku pernah dipublikasikan di solopost, koran pantura, merah putih post, joglo semar dan radar mojokerto juga terdapat dalam beberapa Antologi. Saat ini tergabung dalam FLP Solo, pernah belajar bersama Sastra Alit Solo dan Alumni #KampusFiksi Jogja. Sedang merintis taman baca di sebuah desa dan tergabung dalam Forum TBM Wonogiri.



Tuesday, April 17, 2018


KATEGORI BUKU:
Antologi Puisi
JUDUL BUKU:
Hujan Turun di Desa
PENULIS:
Danang Febriansyah
PENYUNTING DAN PENATA LETAK:
Tim CV Jejak
DESAIN SAMPUL:
Danang Febriansyah 
PENERBIT:
CV Jejak (Jejak Publisher)
JUMLAH HALAMAN:
77 halaman
DIMENSI:
14 cm x 20 cm
ISBN:
978-602-5769-37-5
ISBN ELEKTRONIK:
978-602-5769-38-2
SINOPSIS:
Hujan Turun di Desa
Dan gerimis itu datang juga
Ini malam pertama basah
Merelakan gelap cakrawala
Demi sejuknya seluruh tanah
Maka melayanglah ke Ibukota
Saat hujan, dia masih angkuhkah?
Menanti rintih meratap Ibukota
Saat gemuruh air dari langit tumpah
Koran, TV, radio tersebar berita
Keangkuhannya lenyap musnah
Banjir lembut selubungi pongahnya Ibukota
Para tikus hanya menatap dari
tumpukan jabatan dan harta
PEMESANAN :
Whatsapp atau SMS ke 085771233027
atau pesan melalui message FB Jejak Publisher (https://www.facebook.com/JejakOfficial) dengan format pemesanan:

Hujan Turun di Desa

Rp33,000.00

Sunday, May 7, 2017

DAHAYU: PEREMPUAN PERKASA, CITA-CITA DAN KEMATIANNYA

Dimuat di Litera.co.id, Minggu, 7 Mei 2017
http://www.litera.co.id/2017/05/07/dahayu-perempuan-perkasa-cita-cita-dan-kematiannya/

Dahayu berjalan menyusuri pematang sawah yang berundak dan masih berselimut embun. Bila kebahagiaan adalah menghirup udara pagi pedesaan, maka Dahayu sudah bosan dengan kebahagiaan itu. Di sawah ia akan menyabit rumput untuk ternak-ternak suaminya. Sapi dan kambing yang jika Dahayu mendekat, maka mereka bagai didatangi sang induk.
Ia mengibaskan kakinya untuk mengurangi embun yang membasahi rerumputan di pematang sawah. Segenggam demi segenggam rumput ia kumpulkan dalam keranjang di punggungnya.
Sampai beberapa saat kemudian, Dahayu menghentikan kegiatannya. Ia mendongak ke atas saat sepasang kaki bersepatu boot berhenti tepat di hadapannya. Ia mengernyit, belum sekalipun ia mengenal lelaki muda di hadapannya.
Dahayu hanya tahu, lelaki muda itu yang sebulan terakhir selalu melewati pematang di sawah ini. Sesekali bertanya pada petani yang kebetulan ada di sawah. Ia sebatas hanya tahu itu. Tidak mengira ia merasa akan mendapat giliran untuk ditanya.
“Kamu bukanlah perempuan yang banyak bicara tapi tak mampu melakukan pekerjaan pria seperti yang kamu lakukan.” Pemuda itu menatap Dahayu yang masih jongkok dengan senyum. “Berdirilah.”
Dahayu berdiri, mengelap tangannya yang basah oleh embun dan kotor oleh tanah pada roknya. Ia menunduk tanda hormat pada pemuda yang tak berpenampilan layaknya pemuda desanya.
“Kami biasa melakukan ini,” ujar Dahayu pelan.
“Oh ya, aku datang bersama kawan-kawan. Selama sebulan kami tinggal di rumah Kepala Desa. Kami sedang KKN di desa ini.” Panji, pemuda itu mengulurkan tangannya dan dijabat oleh Dahayu setelah beberapa saat terulur hampa. Mereka berkenalan
Panji merasa, usia Dahayu tak terpaut jauh dengannya. Namun pekerjaan yang dilakukan Dahayu baginya lebih layak dilakukan pria atau wanita paruh baya.
“Tak usah memandangku heran seperti itu. Kami perempuan-perempuan desa, memang sudah terbiasa pergi ke sawah sejak pagi, menyabit rumput dan saat pulang harus membawa batu untuk kami pecah menjadi koral di rumah.”
“Untuk siapa kamu bekerja sekeras itu?”
“Anak. Siapa lagi?”
“Kamu sudah punya anak?”
“Lebih cepat punya anak bukannya lebih baik daripada terlambat atau tidak sama sekali?”
Pemuda itu diam. Sebagai pemuda kota, ia tak pernah sekalipun melihat betapa keras hidup wanita di desa ini. Bahkan Dahayu yang semuda itu sudah harus mengurus anak. Sementara ia bergelut dengan ilmu di kampus. Dan sebagai mahasiswa, ia tak mampu menjawab pernyataan Dahayu itu.
Namun ia terus digelayuti sebuah pertanyaan yang dalam. Yang menggugah karakternya sebagai lelaki.
“Suamimu kemana?” Lirih Panji bertanya. Suaranya nyaris tertahan.
Benar saja, Dahayu diam seketika. Ia kembali jongkok dan menyabit rumput. Namun itu dilakukan tak sesemangat tadi. Gerakannya lemah.
“Maaf.” Kembali pemuda itu bicara dengan suara yang pelan.
“Tidak. Ia ada di rumah. Mungkin sedang membersihkan alat pancingnya.”
Panji mendapati dirinya menjadi seorang yang paling berpendidikan di desa itu, ia merasa Dahayu adalah cerminan orang-orang desa. Lalu dilihatnya penampilan Dahayu yang sekedarnya, tanpa alas kaki dengan kaos oblong yang bagian lehernya sudah longgar.
“Kamu tidak berniat…”
“Kuliah? Aku terus punya tekat untuk itu. Meski pernah digagalkan oleh pernikahan hampa ini. Aku terus menyimpan niat itu.” Dahayu merasa – perasaan seorang perempuan – Panji membandingkan penampilan mereka.
“Ah, maaf. Aku harus pulang. Suamiku bisa marah kalau aku terlambat.” Buru-buru Dahayu kembali menggendong keranjangnya yang belum penuh terisi rumput.
Panji masih terdiam memandang kepergian Dahayu yang berjalan menuruni pematang sawah dan melewati sungai. Diambilnya sebongkah batu yang tampaknya cukup berat, namun dipaksanya tubuh perempuan Dahayu untuk kuat membawa beban itu.
Ingin rasanya Panji membantu, namun ia seperti terpaku, tak bisa bergerak. Hanya gumpalan pikiran yang bergumul di kepalanya.
***
“Kau jangan berteriak perempuan harus setara laki-laki. Apa sudah melihat seluruh perempuan di negeri ini?” Di rumah kepala desa, tempat mahasiswa-mahasiswa itu tinggal, Panji bicara pada Cetta, kawan perempuannya di pendhapa joglo.
“Melihat? Harus kau tahu, perempuan itu harus sejajar dengan lelaki, apapun itu!”
Panji tersenyum, “Perempuan desa ini sudah jauh melakukannya sebelum kamu dan perempuan sepertimu bicara. Mereka melakukan hal itu, bukan cuma bicara.”
“Apa maksudmu?”
“Kau bisa menyabit rumput? Kau bisa mengangkat bongkahan batu dari sungai untuk kau pecah-pecah menjadi koral? Kau bisa memberi makan beberapa ternak?”
“Itu tugas lelaki.”
“Kau bilang tadi perempuan harus sejajar dengan lelaki. Dan kau belum melakukan hal itu, tapi perempuan desa ini telah melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Jauh dari yang kau wacanakan.”
“Siapa perempuan itu?”
“Perempuan-perempuan desa ini. Salah satunya adalah Dahayu, perempuan seumuran kita yang telah menikah dan memiliki anak. Dan …”
“Dan …”
“Dan ia ingin setara dengan lelaki, melanjutkan pendidikannya.”
***
Rutinitas Dahayu tidak berubah. Mengantar anak sekolah, mencari rumput dan nanti saat pulang, ia akan mampir ke sungai untuk mengambil batu.
Dan rutinitas Dahayu sudah diketahui oleh Panji. Pemuda itu lebih dulu sampai di area persawahan. Mengamati padi-padi yang telah menguning. Melihat burung-burung yang bergerilya menyantap gabah-gabah. Beberapa petani pun mengusir burung-burung kecil itu dengan berteriak-teriak. Beberapa telah menggantungkan kaleng-kaleng yang diisi kerikil di sebuah tiang bambu dan diulurkan dengan tali ke gubuk. Petani itu menarik tali dari gubuk sehingga kaleng-kaleng berbunyi mengusir burung-burung yang mencoba menghabiskan gabah yang masih melekat di batangnya.
Suasana itu, bagi Panji adalah sebuah kedamaian. Ia bahkan mencium aroma sangit di sawah itu. Penciumannya mengendus. Terasa aneh ada aroma semacam ini.
“Itu bau walang sangit.” Dahayu telah sampai di belakangnya.
Wanita desa itu seperti biasa, menggendong keranjang untuk tempat rumput. Panji menoleh, ia tersenyum.
“Oh, sejenis serangga?”
“Begitulah. Karena baunya yang menyengat seperti ini, maka dinamakan walang sangit. Kamu belum pernah lihat?”
Panji menggeleng. Dahayu menunjuk seekor serangga sejenis belalang berwarna hijau bertubuh kecil yang hinggap di batang padi dekat mereka.
“Apa kamu sudah memasak kalau kamu tinggal ke sawah?” Panji mengalihkan pembicaraan.
“Semua sudah aku siapkan sebelum memandikan anak bungsuku.”
Panji terperanjat. Artinya Dahayu tidak hanya memiliki anak yang sekolah. Keningnya berkerut. Dahayu tahu itu sebuah pertanyaan.
“Anakku dua, yang sudah sekolah dan yang bungsu dua tahun.”
“Siapa yang menjaga anakmu kalau kamu ke sawah sepagi ini?”
“Neneknya.”
“Bapaknya kerja juga?”
“Kamu banyak bertanya ya?”
“Maaf. Demi kepentingan tugas akhir.”
“Haruskah bertanya hingga keluargaku?”
“Agar sempurna tulisanku tentang kehidupan desa. Boleh ‘kan?”
Dahayu meski tidak paham dunia perkuliahan, namun ia merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan Panji. Terlepas benar atau tidak tujuan pertanyaan Panji, Dahayu hanya merasa bisa melepaskan beban dengan menjawab pertanyaan meskipun baginya terasa tidak ada hubungan dengan pendidikan yang dijalani Panji.
“Sudah kubilang beberapa hari lalu, bapaknya duduk, membersihkan pancingannya.” Namun dijawab juga pertanyaan Panji.
Jawaban itu membuat Panji terobek jiwa lelakinya. Sebagai pria, seharusnya suami Dahayu tidak hanya berdiam diri memuliakan hobinya. Ia tidak boleh membiarkan istrinya bekerja sekeras ini.
“Semua suami di desa seperti itu?”
“Bukannya suami di kota juga ada yang seperti itu?”
Panji selalu diam ketika pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan juga oleh Dahayu. Ia merasa tak sepantasnya Dahayu diperlakukan oleh suaminya begini rupa.
“Tidakkah lebih baik tidak membicarakan pribadiku?” Dahayu mengalihkan perhatian. Ia enggan untuk membicarakan itu. Sebab sawah adalah pengalihan yang seharusnya.
“Adakah bahaya di sawah yang damai seperti ini?” Panji menuruti permintaan Dahayu.
“Tentu. Bahkan kematian bisa saja terjadi di sawah yang kau anggap damai ini.”
“Seperti apa?”
“Terpeleset, contoh kecilnya. Disambar petir atau digigit ular berbisa.”
“Lalu kenapa kau bertelanjang kaki?”
“Ini memudahkan aku berjalan di pematang sawah.” Dahayu menjawab ringan.
Panji melihat jam tangannya. Tepat jam sembilan pagi. Ia harus kembali ke tempatnya tinggal, berkumpul bersama kawan-kawannya untuk melaksanakan jadwal terakhirnya selama di desa ini. Besok harus kembali.
“Aku harus kembali.” Panji menghela napas, “Dan … hati-hati.”
Setelah beberapa hari ini mendapatkan sesuatu di sawah ini, hari ini Panji merasa berat untuk kembali ke rumah kepala desa. Harus ada yang tertinggal di desa ini.
Tapi dengan berat, Panji beranjak saat Dahayu menatapnya, di kalimat terakhir.
***
Mata yang sembab mengiringi langkah kaki Dahayu di sawah. Betapapun kuat seorang perempuan, air mata tetaplah mengalir dengan mudahnya, bagi Dahayu. Ia merasakannya.
Dahayu ingin melihat ada kehangatan di sawah tempatnya menyabit rumput. Ia ingin kehangatan itu hadir di tengah sejuknya udara pagi ini. Diedarkan pandangannya ke segala arah mata angin. Ia tak mendapati. Dihempaskannya keranjang dan sabit di pematang sawah. Ia terduduk di sana. Air matanya masih mengalir.
Perihnya pisau yang mengiris hatinya dari kalimat yang diucapkan Mahadri, suaminya tadi pagi begitu menghujam.
Dahayu dengan sadar dan rela melakukan segala hal yang seharusnya sang suami yang melakukan, atau setidaknya membantunya. Ia harus mencari rumput tiap pagi, memberi makan ternak-ternak yang dibeli Mahadri – dengan uang hasil kerja Dahayu. Mengantar anak sekolah, memandikan si bungsu, menyuapi.
Lalu Mahadri akan berteriak marah-marah ketika meja makannya masih kosong. Dahayu belum sempat memasak. Dan ibunya, nenek dari anak-anaknya tak sanggup lagi bekerja, meski hanya sekedar memasak.
Mahadri tidak mau tahu. Nasehat mertuanya akan didengarnya, bagaimanapun Mahadri punya rasa hormat. Namun nasehat itu tidak pernah dijalani. Oh, andai dia tidak kuat, ia pasti telah meminta cerai.
Sekedar hal kecil itu pula yang membuat Mahadri kalap. Perut yang lapar tidak mampu diajak berlembut hati.
“Pergilah! Pergilah mencari rumput. Itu pekerjaan perempuan! Tapi bukan berarti meja makan kosong begini!” Mahadri berteriak di sebelah meja makan.
“Mahadri. Berbagilah pekerjaan dengan istrimu, ia istrimu, sigaraning nyawamu. Hidupnya itu hidupmu. Kalau Dahayu memasak, kamu pergilah yang mencari rumput.” Bergetar suara mertuanya, ibu dari Dahayu. Perempuan tua itu rupanya mendengar kemarahan menantunya.
“Maaf, Bu. Tapi Dahayu sudah keterlaluan. Ia tidak juga memasak meski bangun sejak subuh!” Mahadri mencoba meredam suaranya, meski masih terdengar amarahnya.
Dahayu hanya diam, ia merasa tidak bebas bicara dalam tekanan seperti ini. Dilihatnya anak sulungnya sudah siap berangkat sekolah. Ia harus mengantarnya.
“Antarkan anakmu sekolah, biar Dahayu memasak.”
“Ya sudah. Tidak perlu aku sarapan. Aku bisa makan di warung. Pergilah, cari rumput sana!”
“Tolonglah, Mahadri. Dimana kelembutanmu saat melamar Dahayu dulu? Pergilah sekali-kali mengantar anak kalian dan cari rumput. Biar Dahayu memasak.” Nenek itu merasakan kejanggalan di hatinya. “Sekali ini saja…”
“Tidak. Si Sulung lebih suka Dahayu yang mengantar sekolah. Lalu cari rumput.” Mahadri masih menjawab, dengan tenang. Lalu mendekati Dahayu, “Cepat pergilah. Aku akan urus surat cerai kita!”
Dahayu pun menuruti Mahadri, dilihat mata ibunya berkaca-kaca. Ada perasaan yang muncul di kedalaman mata tua itu.
Dan kata cerai itu, kata yang tabu diucapkan oleh warga desanya, telah diiriskan bagai pisau yang tajam ke hatinya oleh Mahadri. Semudah itu Mahadri mengucap kata pamungkas itu. Meski bertubi-tubi ia dihantam beban yang besar begitu rupa, namun kata itu, kata cerai itu, selalu Dahayu buang jauh-jauh. Ia sadar, anak-anak mereka yang akan jadi korban. Dahayu begitu rupa merelakan harga dirinya diinjak-injak Mahadri demi menyelamatkan anak-anak mereka. Sampai kapanpun Dahayu akan terus berusaha menjaga rumah tangganya tetap utuh.
Embun pagi yang sejuk tak mampu meredam sakit yang dirasakan Dahayu. Yang diharapkan mampu meredam dengan percakapan-percakapan yang terjadi, tidak juga muncul. Ia ingin bertanya lebih jauh tentang niatnya kuliah. Setidaknya pernah ada kabar di kecamatan akan dibuka Universitas Terbuka, itu merupakan kesempatan yang datang pada Dahayu. Ia ingin hidup dengan lebih baik. Juga ingin anak-anaknya akan malu jika hanya sampai pendidikan dasar sementara ibunya adalah seorang sarjana.
Dahayu berdiri. Rumput dan sawah adalah dunianya. Meski pagi ini tidak mendapati Panji yang biasa datang dan mengajaknya bicara. Sejenak meredam panas hatinya akan kalimat-kalimat yang dilontarkan Mahadri.
Tidak didapatinya Panji pagi ini dirasakan Dahayu sebagai sebuah kehilangan. Dilihatnya keranjang rumput masih kosong. Sementara air matanya sudah reda. Ia segera mengambil sabit dan menggenggam rumput. Secepat itu pula ular berwarna belang hitam dan putih mematuk tangannya.
Dahayu menjerit, pelan. Ia mengusir ular weling itu, namun binatang melata tersebut tetap diam. Dahayu berdiri mencoba pindah tempat, langkahnya terhuyung. Pandangannya kabur. Tepat saat akan terpeleset, Panji berjalan cepat sambil menjaga keseimbangan di atas pematang menangkap tubuh Dahayu. Sebuah benda terjatuh dari genggaman Panji.
Dalam pandangan yang kabur, Dahayu menatap wajah Panji. Dalam jiwanya yang gersang semacam padang yang tandus, kehadiran Panji seperti setitik embun yang membasahinya.
Jantungnya kian cepat berdetak.

***

Wednesday, February 8, 2017

REL MERAH




Cerpen : Danang Febriansyah

                  Derit kereta api terdengar memasuki stasiun. Calon penumpang yang menunggu sejak tadi segera berdiri dan berlarian ke peron. Ketika kereta berhenti dan pintu gerbong dibuka, penumpang dari dalam menyeruak keluar. Calon penumpang seakan tidak sabar menunggu penumpang yang keluar. Merekapun kemudian saling berdesakan. Kereta tiba lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.
                  Para porter menawarkan jasanya, bersahutan dengan tukang becak dan pengemudi taksi yang juga mencari penumpang. Senja itu, stasiun kota tidak surut dengan riuhnya orang-orang dengan urusan masing-masing. Angin yang bertiup sedikit melegakan sesak napas di antara riuhnya manusia di tempat ini.
                  Namun kesibukan-kesibukan itu tidak membuatku beranjak dari kursi tunggu di stasiun ini. Meski tiket sudah kugenggam dan kereta sudah datang, tapi keraguan masih menghadang. Dilema antara berangkat atau tetap tinggal di kota ini.
                  Senja perlahan menghilang seiring adzan maghrib berkumandang yang sayup terdengar. Kereta belum berangkat, seperti menantiku untuk segera naik. Tapi aku masih enggan meninggalkan tempat duduk ini. Kejadian semalam masih menghantuiku. Itu tidak kuduga.
                  “Aku harus pergi. Harus. Selain itu, aku malu pada orang tuamu,” ucapku tadi sore ketika kau melarangku untuk pergi.
                  “Aku tak tahu alasanmu tiba-tiba kamu ingin pergi. Juga tak tahu kenapa kau malu pada orang tuaku.” Kau menunjukkan raut muka yang bingung.
                  Aku tak peduli. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Di sisi lain, aku enggan meninggalkanmu, tapi ketakutanku cukup besar. Aku tidak biasa dengan hal ini. Sebelum sesuatu yang lebih besar terjadi, aku harus pergi.
                  Petugas stasiun mendekati kereta. Kemudian dia memberikan tanda bahwa kereta akan segera berangkat. Aku masih duduk, namun pantatku sudah terasa panas seakan memperingatkanku agar segera berdiri. Keraguanku masih ada. Kau atau kematianku sama-sama mengancam.
                  Seseorang duduk di sampingku sambil membaca koran hari ini. Sebuah judul di halaman muka koran itu cukup menggetarkan nyaliku. BEGAL TEWAS DIBAKAR MASSA.
                  Aku sampai merinding membacanya, itu cukup untuk membuatku berdiri dari dudukku dan menghapus keraguanku. Keganasan begal rupanya mampu dihanguskan banyak orang. Entah siapa yang dikatakan paling kejam.
                  Aku langsung belari ketika kulihat pintu kereta mulai bergerak akan menutup. Aku tadi duduk di deretan kursi tunggu paling belakang, jadi aku harus lari secepat mungkin agar dapat menggapai pintu kereta yang mulai tertutup. Orang yang membaca Koran di sampingku juga berdiri dan tak sengaja aku menabraknya hingga dia terjatuh. Secepat dan sekencang saat lari menembus malam duapuluh jam yang lalu.
                  Apa yang kutakutkan saat bicara denganmu tadi sore menjadi kenyataan. Dua orang berbadan tegap mengetahuiku lalu segera mengejarku. Orang yang kutabrak tadi juga langsung berteriak padaku hingga mengundang perhatian orang-orang.
                  “Tuhan, kumohon. Masukkan aku ke dalam kereta itu,” doaku sambil berlari menuju pintu kereta.
                  Setelah mendengar teriakan orang yang tertabrak olehku tadi, segera orang-orang yang ada di sana ikut mengejarku bersama dua orang polisi berbadan tegap tadi. Begitu pula, seakan pintu kereta ikut bekerjasama dengan menutup rapat sebelum aku memasukinya.
                  Aku harus ganti arah. Batinku diantara detak jantung yang tidak teratur. Keringat mulai membanjir. Kenapa mereka semua mengejarku? Tahu apa mereka tentang kejadian semalam?
                  Belum sempat niatku tercapai, aku terpeleset dan terjatuh. Segera tubuhku merasa ngilu dikeroyok massa. Dua orang polisi tidak mampu mencegah beringasnya orang-orang yang mengejar dan menghajarku saat ini.
                  Lalu aku melihat kilatan benda yang memantulkan cahaya lampu stasiun. Saat itu aku merasa tertikam, lalu darah mengalir dari perutku yang membuat bagian lantai stasiun tempatku terkapar menjadi merah dan membasahi rel.
                  Kereta mulai bergerak meninggalkan satu penumpangnya yang menggenggam tiket. Melintas di pikiran kejadian semalam, saat aku dipaksa ikut bersama temanku yang kini sudah hangus di bakar massa. Merampas sepeda motor yang ternyata dikendarai calon mertuaku.
                  Kini, tinggal mataku yang berkedap-kedip.


DANANG FEBRIANSYAH, tergabung dalam #KampusFiksi, Sastra Alit Solo dan FLP Solo. Sedang merintis sebuah taman baca di sebuah desa di Wonogiri