Saturday, December 28, 2019

Tulisan Ringan yang Dimuat di Koran Merapi Jogja


Berikut beberapa tulisan ringan saya yang pernah dimuat di Koran Merapi Jogja. Mungkin bisa jadi referensi menulis pengalaman sederhana untuk dikirim ke Koran Merapi. Sebab tulisan ringan seperti ini juga dihargai berupa honor. 
Belum semua tulisan ringan saya yang pernah dimuat di Koran Merapi saya tuangkan di blog ini. Ini hanya beberapa saja, karena tiba-tiba saja honor datang ke rumah tanpa saya tahu tulisan mana yang dimuat. 
Menarik, kan menulis itu? Meski sederhana, tapi tidak ada salahnya dicoba. Untuk tulisan seperti ini, saya kira siapapun bisa bisa. Semoga bermanfaat.

PJSK (Pengamen Jalanan Satu Keluarga)
Danang Febriansyah

            Pengamen jalanan, ada di setiap daerah di Indonesia. Tapi di sebuah desa di Wonogiri, ada pengamen jalanan yang terdiri dari satu keluarga, dari orang tua hingga anak-anaknya. Anaknya pun tidak hanya satu, tapi lebih dari lima orang. Yang paling kecil masih sekitar usia anak TK hingga awal SD, juga ikut mengamen.
            Seluruh anak-anaknya tersebut tidak sekolah. Bukannya tidak mampu, tapi tidak mau sekolah meski sudah dibujuk tetangga-tetangganya.
            Jika sedang mengamen, dari pasar ke pasar, selalu berombongan. Minimal lima orang bersaudara, termasuk yang paling kecil. Kadang lebih, beserta bapaknya yang bertugas meminta uang pada pedagang di pasar.
            Mereka bahkan membuat kaos sebagai seragam. Di bagian punggung kaos ditulis “PJSK. Pengamen Jalanan Satu Keluarga”, sedang di bagian depan kaos ditulis nama-nama masing-masing keluarga.


***


GENDAR PECEL RASA TOILET
 Danang Febriansyah

            Sarapan yang dirasakan teman saya ini sungguh ajaib. Ia membeli gendar pecel untuk menu sarapan suami dan anaknya. Sebagai istri, ia merasa itu adalah sebuah kewajiban, di samping untuk sarapan dirinya sendiri.
Iapun melajukan motornya menuju warung langganan, karena tutup ia berpindah di warung lain dan membeli tiga bungkus gendar pecel. Sesampainya di rumah, ia menyiapkan menu tersebut untuk suami dan anaknya. Ia sendiri juga langsung menyantap menu itu.
Malang, ia mencium aroma kotoran di sela makannya. Ia mengendus ke sana ke sini. Dan ditemukan sepucuk kotoran manusia yang telah berlumur sambal pecel. Ia benar terjadi dan menjadi sarapan yang maling menjijikkan sepanjang hidupnya.

***

Bule di Dalam Pasar Tradisional


Minggu, 6 Oktober 2019, pasar tradisional Puhpelem, Wonogiri heboh. Bukan hanya karena ramai pengunjung, tapi ada warga negara asing berkunjung ke dalam pasar. Para penjual ramai menunjuk dan tertawa, juga berdecak melihat dari dekat seorang warga negara asing. Beberapa berswafoto dengannya. Apalagi banyak penjual yang barang dagangannya dibeli olehnya. Maka kebahagiaan terpancar dari para penjual seperti mendapat hiburan lebih. Komunikasi pun banyak menggunakan bahasa tubuh. Beberapa diterjemahkan oleh seorang wanita berkulit hitam manis di dekatnya.
Pun seorang penjual tembakau, barang dagangannya berupa tembakau dibeli oleh warga negara asing itu senilai Rp. 20.000. Seorang penjual buku meski sedikit bisa berbahasa Inggris tak lepas juga didekatinya untuk mencari buku berbahasa Inggris.
Setelah sang bule dan perempuan di dekatnya berjalan meninggalkan kios tembakau, Mbah penjual tembakau bertanya agak kencang pada penjual di sekitarnya. Membuat pandangan beberapa orang tertuju pada mbah tersebut.
“Itu perempuan di dekatnya, pembantunya, ya?”
“Itu istrinya, Mbah. Istrinya,” jawab penjual buku perlahan.

***

JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN
Danang Febriansyah

            Pesan “Buang Sampah Pada Tempatnya” sudah sering kita dengar. Akan tetapi banyak orang yang tidak peduli dan buang sampah sembarang tempat, meski itu orang yang sudah dewasa.
            Berbeda dengan seorang anak kecil kelas 2 SD di Bulukerto, Wonogiri. Ia selalu menyimpan sampah bekas snack dahulu di sakunya atau di bagasi motor ayahnya jika belum menemukan tempat sampah. Ia akan membuangnya jika sudah menemukan tempat sampah.
            Kalaupun ia terpaksa membuang sampah sembarang tempat, misal sampah basah, ia akan meletakkan sampah itu perlahan, bukan melemparnya dengan perasaan menyesal tidak membuang sampah di dalam tempat sampah. Ia meletakkan sampah itu sambil mengucap basmalah lebih dulu. Kemudian ia berkata, “Maafkan aku ya Allah, buang sampah sembarangan.” Padahal orang tuanya tidak mengajari kalimat itu.

Ia yang Menjelma Bunga Matahari



Cerpen Danang Febriansyah

ditayangkan pada 25 November 2019 di: https://magrib.id/2019/11/25/ia-yang-menjelma-bunga-matahari/

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.
Pohon-pohon berakar serabut banyak yang tumbang. Angin dan hujan badai seakan bersekongkol memporak-porandakan perdesaan itu. Di sebuah halaman rumah tembok di lereng bukit, sebuah bunga matahari tetap tegar berdiri. Tidak goyah oleh angin, hanya basah oleh hujan. Meski juga berakar serabut.
Ia di sana, sebab sebuah cerita.
***
Seharian wanita itu hanya berdiri di halaman depan rumahnya. Sesekali menatap jam di telepon genggamnya. Pun ia menunggu kabar dari suaminya yang belum juga pulang sampai senja mulai menyala.
Dihyan, wanita itu sebenarnya tahu tentang suaminya, Niscala. Banyak teman yang mengabarkan apa yang dilakukan suaminya di luar rumah. Kabar yang telah ia alami sendiri jauh sebelum teman-temannya mengetahui sikap sang suami.
Ia lihat sendiri ketika sebuah kesempatan datang untuk melihat isi galeri telepon genggam Niscala. Foto-foto sang suami berpose dengan perempuan-perempuan lain. Berswafoto dengan mereka dengan wajah-wajah tanpa derita. Dan meski hanya foto, itu sungguh menyiksanya.
“Ayah belum pulang, Bun?” tanya Aruna, anak lelakinya dari balik pintu.
“Belum,” jawab Dihyan itu datar.
Matanya tajam ke depan. Menatap udara petang yang beranjak pekat.
“Aku lapar, Bun.”
“Kita segera makan, Nak. Tanpa ayahmu.”
“Sekarang, ya, Bun?”
Dihyan berdiri. Ia langkahkan kaki, namun badannya terasa berat. Seperti ada akar yang menancap di kakinya. Suaminya belum pulang. Ia sebenarnya tahu, seperti biasa. Bahwa suaminya kerja atau tidak kerja, tidak akan membawa uang ke rumah. Tidak ada uang belanja, pun nafkah untuk keluarganya.
Dengan langkah yang berat, Dihyan masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makan malam untuk Aruna. Niscala tidak memberi uang belanja, bahkan selama dua bulan ini. Maka ia masak sekadarnya. Membeli sayur dari uang upahnya sebagai guru honorer di sebuah sekolah.
Petang ini Aruna meminta makan. Seingatnya di dapur telah tandas bahan masakan. Niscala belum pulang, dan honor dari sekolah baru cair besok. Untung masih ada sisa sebutir telur, maka ia menggorengnya
“Di mana ayah, Bunda?”
“Ia bersama kesenangannya. Biarkan.”
Tapi anak laki-laki itu membaca apa yang dipikirkan ibunya. Aruna melihat duka di mata ibunya. Duka akan perilaku ayahnya yang hanya peduli dengan kesenangannya belaka.
Mata Dihyan menatap kosong pada tembok yang belum dicat. Dihyan ingat saat dua bulan lalu beberapa mahasiswa datang ke desanya untuk sebuah penelitian. Mereka menginap di rumahnya selama sebulan. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Sebagai warga desa yang terbuka, ia setuju atas keputusan suaminya meminjamkan dua kamar rumah mereka untuk kelima mahasiswa itu.
Ia sebenarnya khawatir dengan kedatangan mahasiswa itu. Tapi kekhawatiran justru tertuju pada sikap Niscala yang seperti biasa. Lebih memperhatikan perempuan-perempuan lain daripada istri dan anaknya.
Kekhawatiran yang terbukti. Salah satu mahasiswa perempuan seperti mendapat perhatian lebih dari Niscala. Dihyan menangis ketika melihat suaminya duduk di teras belakang bersama seorang mahasiswa perempuan.  
“Besok ikut saja denganku,” kata Niscala pada mahasiswa itu.
Ia mendengar dari balik jendela yang membatasi ruang tamu dan teras.
“Kemana?” jawab mahasiswa tersebut. Biasa, tapi terdengar lembut dan cukup untuk menuntut pertanggungjawaban.
“Ada pertunjukan musik di lapangan. Tapi kita berdua saja, tidak usah kasih tahu yang lain. Pun ibunya anakku.”
Dihyan jelas mendengar apa yang dikatakan Niscala. Maka ia berlari ke depan dan menangis di sana. Tersedu namun ia menahannya agar tidak terdengar dan terlihat siapapun. Untuk mengalihkan tangisnya, ia menuju halaman. Menyiram bunga-bunga yang ditanamnya. Memotong daun yang kering agar pohon tidak mati. Membersihkan debu yang menempel pada bunga-bunga itu.
“Bunga Matahari belum ada di halaman ini,” gumamnya saat melihat bunga-bunga kecil itu.
Hanya ada bunga warna merah, merah muda dan ungu. Tidak ada warna kuning ceria dan cukup besar untuk memanjakan pandangan. Maka terbersit di otaknya adalah Bunga Matahari.
“Yang selalu menghadap matahari, dan seakan terlihat paling bersinar diantara bunga lain,” imbuhnya. “Aku ingin menambahkannya di sini.”
Ia berdiri menghadap rumahnya dari halaman. Tidak ada tanda-tanda sang suami keluar. Berarti mereka masih menikmati obrolan yang menyakitkan hatinya. Ia tetap berdiri di sana.
Beberapa waktu kemudian Niscala keluar. Menstarter motornya. Sendiri dengan wajah yang penuh gembira.
“Mau kemana?” tanya Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga kecil.
Niscala tidak memperhatikannya. Hanya menatap layar telepon genggamnya dengan senyum licik.
“Mau pergi?” tanyanya sekali lagi.
Dan sekali lagi tak ada jawaban. Hanya suara motor yang dikendarai Niscala yang menjawab. Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga. Menatap warna-warni itu satu persatu seperti menatap pekerjaan murid-muridnya di sekolah. Mengusap kelopak bunga dengan lembut seperti mengusap kepala anaknya ketika akan berangkat sekolah. Membuang daun kering yang masih menempel di ranting, seperti membuang sakit hati akan sikap suaminya.
Hingga ia tak sadar malam kian pekat dan terus saja wanita itu berdiri di sana. Sambil sesekali menatap pintu rumah yang masih terbuka. Bunga-bunga yang sudah mekar menularkan bahagia di hatinya. Ia usap sambil bernyanyi kecil pada bunga yang masih kuncup.
Udara malam di lereng bukit itu semakin menggigit. Tapi Dihyan tidak merasakan gigil. Ia malah menikmati kedamaian bersama bunga-bunga yang ditanamnya dan dipeliharanya seperti anak sendiri.
Di awal hari ia melihat suaminya datang. Tapi seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak mendapat perhatian, dan masih terus berdiri di sana. Di halaman depan rumah. Bersama bunga-bunga tanamannya.
Hanya Niscala melirik sekilas padanya sambil bicara pelan dengan nada yang tidak suka, “Halaman penuh bunga, seperti hutan. Besok akan kubabat habis!”
Wanita itu bertekad akan tetap di sana, agar bunga-bunganya besok tetap tumbuh tidak dirusak oleh suaminya. Ia akan menjaganya.
Dan pagi pun menjelang, matahari menyapa dari balik perbukitan. Wanita itu tersenyum menghadap matahari pagi.
“Lihat, sumber kehidupan kita telah terbit. Beri salam padanya,” ujar Dihyan pada bunga-bunga tanamannya.
Kehidupan hari itu sudah bermula. Lalu lalang orang-orang di jalan depan rumahnya menatap taman bunga itu dengan pandangan kagum. Anak lelakinya keluar sudah lengkap dengan pakaian seragam putih merahnya.
“Aku berangkat sekolah, Bun.” Anak lelaki itu mendekat dan berpamitan padanya.
Ia usap kepala anaknya, mencium keningnya dan berdoa akan kebaikan untuk anak lelakinya itu.
“Ayah masih tidur,” tambah Aruna.
“Biarkan, Nak. Biarkan. Biarkan ia melampiaskan kegemarannya. Bersabarlah bersama Bunda.”
Aruna tersenyum dan melangkah pergi berangkat ke sekolah. Sementara Dihyan masih menatap rumahnya, berharap kebaikan melimpah pada rumah mungilnya. Berharap ada cahaya matahari menerangi kegelapan rumah karena sikap dingin Niscala. Ia ingin menjadi cahaya, seperti namanya, Dihyan yang berarti matahari.
Dihyan terus memendam rasa sakit di hatinya. Terus membiarkan tingkah Niscala sebagai suami yang tidak pernah memperhatikan dia dan anaknya. Membesarkan anaknya dengan upah sebagai guru honorer sangatlah kurang. Sedangkan Niscala, ketika keluar kadang pamit untuk bekerja hingga dua atau tiga hari.
Wanita itu sangat ingat dan menggeram menahan sakit di hatinya saat Niscala pulang dari kerja yang dua atau tiga hari itu, Niscala tidak memberinya uang.
“Kamu, kan guru. Bisa dapat uang tiap bulan!” sengit ucap suaminya.
“Tapi kamu tiga hari bekerja tentu mendapat uang. Tidaklah kamu lihat Aruna butuh biaya sekolah?”
“Gampang. Pakai gaji gurumu dulu.” Dan asap rokok pun mengepul dari mulut Niscala.
“Tapi kamu ayahnya. Yang wajib memberinya nafkah!” balas Dihyan dengan nada tinggi.
Niscala memandang tajam pada Dihyan. Tangannya mengepal. Ia hantamkan pada udara dan masuk ke dalam rumah. Pintu dibantingnya. Selepasnya hanya menyisakan gemuruh di dada Dihyan.
Dihyan ingat, waktu itu air mata yang ditahan, tak dapat lagi dibendung. Ia berlari menuju halaman yang ditanami bunga. Dan menangis di sana. Air mata serupa pupuk yang membuat bunga-bunga di tamannya semakin subur
Setelah Aruna lenyap dari pandangannya pagi ini, Dihyan ingin beranjak pergi dari halaman, tapi kakinya berat untuk diangkat. Ada serabut serupa akar yang menghunjam ke tanah. Ia menunda keinginannya untuk beranjak dari taman itu. Ia benamkan diri bersama bunga-bunga. Mengalihkan hati dan pikiran dari sikap kasar Niscala. Hanya dengan itu ia berharap mampu mengubah watak sang suami. Bunga melambangkan kelembutan, dan Dihyan ingin kelembutannya menular dan melunakkan sikap Niscala.
Ia harap begitu.
***
Satu per satu orang desa mendatangi taman bunga Dihyan. Mereka mengagumi dan dibuat heran dengan satu bunga yang bersinar terang. Kelopak kuning mengelilingi lingkaran putik di tengah. Dengan pohon lurus dan disertai daun lebar di beberapa titik dahan berwarna hijau. Satu-satunya bunga matahari di taman itu. Paling tinggi di antara bunga lain. Dan tentunya, bunga itu bersinar, menghadap rumah dan menerangi rumah itu.
Niscala keluar rumah membawa sabit dengan wajah penuh amarah. Ia menyibak sekumpulan orang yang mengagumi bunga matahari yang tumbuh paling mencolok di sana.
“Pergi semua! Akan aku babat habis bunga-bunga tidak berguna ini!” kata Niscala penuh amarah. “Dan pergi kalian semua dari sini!”
Berangsur warga desa pergi dari halaman sambil berbisik, merasa kasihan akan sikap Niscala yang tidak memiliki kepedulian.
Setelah warga pergi, Niscala mendekati taman bunga di depan rumahnya itu. Ia tersentak melihat bunga matahari yang paling menarik perhatiannya. Langsung ia menuju bunga matahari yang bersinar. Ia kagum, ia dekatkan wajah pada kelopak bunga tersebut.
“Aku tahu kamu,” ujar Niscala pelan. Suaranya bergelombang.
Hatinya bergetar hebat, sabitnya jatuh ke tanah. Ia cium bunga itu. Aroma wangi menjalar ke seluruh tubuhnya. Dilihatnya dari putik bunga matahari itu muncul titik-titik air. Hati Niscala merasa tersiram embun.
“Kamu menangis? Hentikan tangismu. Kamu tak akan mudah menangis seperti ini.”
Angin menyusuri perbukitan itu. Mendung makin menggulung di langit. Niscala sekali lagi mencium bunga matahari yang menyinari rumahnya itu. Ia lalu beranjak menuju teras rumahnya. Rencananya membabat habis bunga-bunga itu dimusnahkan. Ia pandangi bunga-bunga itu. Dan pandangannya tertuju pada bunga matahari yang sinarnya menusuk jiwa Niscala.
“Kamu Dihyan,” gumamnya di teras rumah. “Ya, kamu Dihyan. Bunga Dihyan.”
Ada rasa kehilangan di hati Niscala. Seseorang baru merasa kehilangan sesuatu jika ia tak lagi memperhatikan sesuatu itu. Hati Niscala seketika kering dalam musim hujan bermula.
Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.
Hanya bunga matahari di depan rumah itu yang tak tergoyahkan badai hari itu.
Untuk D
11 November 2018
========
Danang Febriansyah, mengelola Taman Baca Naturalitera dan tergabung dalam Forum Taman Baca Masyarakat Kab. Wonogiri. Belajar menulis bersama Sastra Alit Surakarta dan #KampusFiksi Jogja serta FLP. Beberapa karyanya, Cerpen, Puisi dan Resensi Buku pernah dimuat di media massa. Buku puisinya “Hujan Turun di Desa” terbit 2018. Novelnya “Arundaya” terbit pada 2019. Juga beberapa buku antologi yang diterbitkan baik melalui penerbit mayor maupun indie. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri.

Friday, May 24, 2019

Arundaya: di Masjid Kuserahkan Cintaku

 


Novel pertamaku akan segera terbit, diterbitkan oleh penerbit Diomedia Surakarta. Kini sedang dalam masa Pre Order. Silakan pesan.

_____

Arundaya meninggalkan desa kelahirannya demi menempuh pendidikan pesantren di kota. Kini, enam tahun berlalu, ia kembali ke Desa Singandelik. Satu per satu kenangan masa kecilnya melintas. Dulu ia bersahabat dengan Gandon dan Palar. Dulu ia pelindung gadis manis bernama Astami dari gangguan Lemet, kakak kelas mereka yang besar dan kuat. Sekarang semua berubah. Dua sahabatnya satu gerombolan dengan Lemet. Sedangkan Astami sudah tidak lajang lagi.

Masa depan Arun berada di persimpangan jalan. Gurunya ingin ia mengabdi di pesantren. Ibunya ingin ia membantu kelurga bekerja di sawah. Kiai pesantren ingin menjodohkannya dengan santriwati pilihan, tapi Arun tidak bisa menghentikan rasa di hatinya yang terus tumbuh untuk Astami. Yang manakah Arun pilih? Ia hanya punya waktu dua minggu untuk memutuskan.

Terjebak dalam pilihan-pilihan tersebutlah, Arun diminta Mbah Darma untuk memakmurkan Bil Haq, masjid desa mereka yang sangat sepi dan sunyi. Sanggupkah Arun? Ia mencoba berbagai cara, tak jarang menghadapi hambatan-hambatan. Namun, di masjid ini ia ikut membantu warga desa menjadi lebih baik. Di masjid ini juga ia bertemu tambatan hatinya, meskipun cinta tak mudah untuk diperoleh. Setelah meminta petunjuk Gusti Allah, Arun memutuskan jalan mana yang ia pilih....

258 halaman, 13 x 20 cm, bookpaper
Harga normal Rp 78.000
Harga promo Rp 66.000 sampai 5 Juni 2019


Sunday, February 3, 2019

Menelusuri Sejarah dari Sebuah Diary

Dimuat di Jawa Pos Radar Mojokerto, 16 Desember 2018

Judul               : TJAP
Jenis Buku       : Fiksi
Penulis             : Yuditeha
ISBN               : 978-602-5783-37-1
Tahun terbit     : Oktober 2018
Tebal               : 216 halaman
Penerbit           : Basabasi

Bisa saja sejarah-sejarah yang tidak terungkap dalam buku sejarah, dapat dibuka dalam sebuah novel. Meski berselimut fiksi, tapi hal-hal yang nyata pernah terjadi dapat dikatakan secara jelas dalam karya sastra berupa novel.
Seperti halnya novel karya Yuditeha, “tjap” ini. Sejarah pergerakan organisasi perempuan “Gerwani” pada tahun 1965 dikupas dengan latar hubungan emosional antara ibu dan anak perempuannya.
Cara bertutur dan novel yang minim dialog kecuali pada prolog dan pada ending, mulai masuk ke cerita setelah prolog selesai. Pembaca diajak “tjap” untuk menelusuri hari demi hari di September hingga Oktober 1965 dari sebuah diari.
Novel ini bermula dari seorang yang ingin membeli rumah di Madiun. Dia menemukan sebuah diari yang menarik hatinya di sebuah lemari. Ia kemudian membaca diari itu halaman-demi halaman.
Dalam novel yang ditulis oleh penulis yang berkali-kali menjadi pemenang dalam berbagai sayembara kepenulisan ini, seringkali terselip jejak-jejak sejarah yang luput dari buku pelajaran sekolah. Secara umum kita tahu bahwa Gerwani adalah organisasi perempuan milik PKI. Padahal pada awalnya Gerwani adalah organisasi yang berbiri sendiri, lepas dari PKI. Kemudian pada tanggal 8 September 1965 (hal. 49) baru rencana afiliasi Gerwani dengan komunis (PKI). Alasan Gerwani bersedia berafiliasi dengan PKI ini adalah kesamaan program. Demikian juga dengan organisasi lain yang pada awalnya berdiri sendiri dan bukan bentukan PKI, seperti: Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, Lekra dan Himpunan Sarjana Indonesia (hal. 118)
Meski Gerwani adalah organisasi perempuan, namun Gerwani juga dibekali latihan fisik dan olah kanuragan. Hal ini terungkap dalam diari Pertiwi (tokoh yang menulis diari di novel “tjap”) pada 5 September 1965 di Jakarta.
Pada pemberontakan 30 September 1965 oleh PKI, mau tidak mau Gerwani juga tersangkut dalam hal ini. Meskipun begitu bukan berarti Gerwani menyetujui gerakan ini karena tidak mungkin bagi Gerwani untuk melakukan pemberontakan terhadap negara dan menganggap tindakan PKI ini terlalu tergesa-gesa (hal. 181).

“Tjap” dalam balutan sejarah ini bisa dikatakan sebenarnya adalah sebuah roman. Hubungan emosional antara seorang anak dengan ibunyalah yang menjadi selimut bagi perjuangan Gerwani. Seorang Pertiwi adalah anak dari seorang laki-laki anggota PKI yang pada 1948 ikut tewas terbunuh gerakan yang mereka sebut perjuangan. Ibu Pertiwi tentu mewanti-wanti agar Pertiwi tidak ikut terjerumus dalam organisasi serupa. Di sinilah hubungan antara ibu dan anak tersebut diukir dalam sebuah diari.
Yuditeha sebagai penulis rupanya cukup lihai memilih celah yang lebih lembut untuk mengatakan “kedurhakaan” anak yang tidak menuruti keinginan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari Gerwani melalui sebuah diari. Meskipun begitu, sebagai anak, sang tokoh tetap menghormati ibunya. Pembaca mengetahui hal itu dan konflik-konflik lain melalui diari yang dibaca.
Meskipun ini cukup memiliki risiko, sebab bisa jadi ada pembaca yang bosan, karena sebagian besar adegan berbentuk narasi. Namun sang penulis rupanya telah menyimpan ending yang tak terduga dalam novel ini untuk mengobati rasa bosan dalam membalik-balik halaman diari.
Sebagai novel, “tjap” bisa dikatakan memiliki sudut pandang yang unik. Sebab dikemas dalam bentuk buku harian. Namun dengan isi yang padat, penuh konflik baik antara ibu dan anak ataupun antara Gerwani dan Pemerintah. Selain itu dalam ‘tjap” juga menyisipkan sejarah-sejarah yang sebagaian belum diketahui oleh publik.


Penulis Resensi :

Danang Febriansyah, resensi dan cerpennya telah dimuat dalam berbagai media massa. Belajar menulis di FLP Solo, Sastra Alit Solo dan #KampusFiksi Jogja. Buku kumpulan puisinya terbit Agustus 2018 dengan judul “Hujan Turun di Desa”. Kini tergabung dalam FLP Wonogiri dan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kab. Wonogiri.

Sunday, December 23, 2018

Publikasi Taman Baca di Jawa Pos

Taman baca Natural (Teras Baca Salon Reri) di Jawa Pos Radar Solo

Teras Baca Salon Reri

Aktivitas Teras Baca Salon Reri, Puhpelem, Wonogiri

Membangun Rumah Seorang Diri

Dimuat di Kolom "Terjadi Sungguh-Sungguh" Koran Merapi, Mei 2018

Biasanya jika seorang ingin membangun rumah, ia membutuhkan banyak tenaga dan tukang hingga rumah siap ditempati. Akan tetapi tidak bagi sepasang suami istri yang tinggal di Tenggar, Desa Bulurejo, Kec. Bulukerto, Kab. Wonogiri. Sang suami membangun sendiri rumah tembok untuk keluarga kecilnya secara bertahap.
            Mulai dari membuat batako, mengaduk semen, memasang batako hingga membuat kusen, hingga rumah tersebut siap ditempati keluarganya. Bahkan belum lama ini ia mulai menghaluskan lantai dengan semen seorang diri. Ia mengerjakan itu saat malam setelah siangnya ia bekerja di tempat lain.

Pengirim : DANANG FEBRIANSYAH, Bendo RT. 02/02, Ngaglik, Bulukerto, Wonogiri.

PROFIL TAMAN BACA NATURAL WONOGIRI




Nama Taman Baca      : Taman Baca Natural
Pengelola                     : Danang Febriansyah
Tahun Berdiri              : 2015
Alamat                         : Bendo RT. 02 RW. 02, Ds. Ngaglik, Kec. Bulukerto,
                                      Kab. Wonogiri, 57697. Jawa Tengah
HP                               : 085229297929

Pada awal tahun 2000-an adalah embrio Taman Baca Natural Wonogiri, meski belum terbentuk. Memulai membeli buku-buku satu demi satu dengan tujuan membuat perpustakaan pribadi. Karena memang saya suka membaca. Pada sekitar tahun 2005 saya mulai mengatakan pada teman-teman dan beberapa orang  jika ingin membaca buku bisa pinjam di tempat saya.
Akhirnya ada juga yang pinjam buku. Namun ternyata ada orang yang pinjam namun hingga sekarang buku tidak kembali. Ini membuat saya kecewa. Akhirnya hanya teman-teman saya saja yang boleh pinjam, dan bisa juga buku saya antar.
Pada 2010 saya mulai tinggal di Solo. Setelah bertemu dengan seorang penulis Gol A Gong di Solo bersama Forum Lingkar Pena Solo, ia berkata jika ingin buka taman baca harus siap buku hilang. Maka saya memiliki niat jika sudah kembali ke Wonogiri ingin memberanikan diri untuk lebih membuka taman baca untuk mempermudah akses baca masyarakat.
Ternyata jalan menuju hal itu saya menemui kendala yang menyedihkan. Selama tinggal di Solo, buku yang di rumah Wonogiri diserang rayap, sebab salah satunya tidak punya rak buku dan tidak ada yang merawat. Beberapa buku tak dapat lagi digunakan. Ini lebih menyedihkan daripada buku dipinjam tapi tidak kembali.
Teras Baca Salon Reri yang didirikan Taman Baca Natural dipublikasikan oleh Jawa Pos Radar Solo

Pada tahun 2015 ketika sudah kembali mudik ke Wonogiri, saya bulatkan niat untuk membuka taman baca dengan modal buku-buku koleksi pribadi. Sebagian kecil saya letakkan di salon yang dikelola istri agar ada pelanggannya yang mau membaca buku.
Sedangkan buku-buku yang lain masih di rumah dan masih belum memiliki rak buku. Dua tahun berselang pemerintah menggratiskan pengiriman buku tiap tanggal 17 setiap bulan. Beberapa kali taman baca yang saya kelola mendapatkan bantuan buku. Koleksi buku kian banyak bertambah, namun rak buku belum mampu saya miliki.

Kini Taman Baca Natural Wonogiri yang sudah berjalan selama 3 tahun sejak 2015 dan telah tergabung dalam donasi.buku kemdikbud dan tergabung juga dalam Forum Taman Baca Masyarakat, kab. Wonogiri.

PERJALANAN SANG WARTAWAN PENCIPTA LAGU KEBANGSAAN

Dimuat di Jawa Pos Radar Mojokerto, Minggu, 21 Oktober 2018


Judul               : SANG PENGGESEK BIOLA
Jenis Buku       : Fiksi
Penulis             : Yudhi Herwibowo
ISBN               : 978-602-7926-41-7
Tahun terbit     : Juni 2018
Tebal               : vi + 400 hal
Penerbit           : Penerbit Imania

Seperti novel Halaman Terakhir, dalam Sang Penggesek Biola, Yudhi Herwibowo juga menulis tentang sosok yang berjasa untuk Indonesia. Halaman Terakhir mengupas tentang Jenderal Polisi Hoegeng dan sisi lainnya, sedangkan Sang Penggesek Biola menguak sisi-sisi lain yang jarang diketahui publik tentang pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Sang Wartawan dan Sang Pencipta lagu-lagu perjuangan, Wage Rudolf Supratman yang juga dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya
Siap sangka nama Rudolf adalah nama tambahan ketika ia dimasukkan oleh kakak iparnya yang bekerja sebagai serdadu KNIL di sekolah terbaik khusus orang-orang Belanda, ELS (Europeesche Lagere school) di Makassar? Meskipun mbakyunya ragu adiknya dimasukkan dalam sekolah khusus itu, namun suami mbakyunya itu tenang saja dengan menambahkan nama Belanda ‘Rudolf” di tengah nama Wage Supratman. (Hal. 16).
Meskipun akhirnya Supratman keluar dari sekolah itu, namun bakat bermusiknya juga tumbuh di kota ini. Bersama kakak iparnya, ia bergabung dalam sebuah kelompok musik jazz “Black dan White Jazz Band” sebagai penggesek biola.
Ketika pindah ke Batavia, W.R Supratman bekerja di beberapa surat kabar. Dan terakhir ia menjadi wartawan di surat kabar Sin Po, yaitu surat kabar untuk orang Tionghoa, namun belakangan juga mengabarkan tentang perkembangan politik di Hindia Belanda.
Di koran Sin Po ini juga, Supratman menemukan cintanya pada seorang karyawati toko roti, bernama Mujenah. Namun ternyata Mujenah telah memiliki tunangan. Dalam keadaan patah hati, Supratman kemudian menemukan penggantinya pada diri Salamah, hingga menikah. Akan tetapi, hubungannya dengan Salamah tidak direstui kakaknya. Karena masalah ini juga yang menjadi salah satu alasan rumah tangga Supratman dan Salamah berpisah.
Sebelum menciptakan lagu Indonesia Raya, sebelumnya Supratman telah menciptakan lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” yang lirik awalanya berbunyi, “Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau” sebelum lirik yang kita kenal sekarang, “Dari Sabang sampai Merauke ...”.
Proses penciptaan lagu Indonesia Raya pun tidak langsung jadi. Sebelumnya ia merasa tertantang dengan kata-kata salah satu tokoh PPPI, Mas Sugondo yang berkata, “Ciptakanlah lagu-lagu kebangsaan, aku yakin, kami semua pasti akan menunggunya.”
Namun yang paling mempengaruhi penciptaan lagu tersebut saat ia membaca satu kalimat di Majalah Timbul yang baginya begitu menantang. Sebuah artikel berbunyi; “Kapan toh ada komponis kita yang bisa mencipta lagu kebangsaan yang bisa mengelorakan semangat rakyat?” (Hal. 225)
Lagu Indonesia Raya tersebut dibawakan Supratman dengan biolanya pada akhir acara Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928. Pada kongres tersebut juga dibacakan keputusan yang kini kita sebut dengan Sumpah Pemuda. Pada rapat keputusan disertai debat sengit tentang bunyi butir ketiga, antara bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Sampai akhirnya diputuskan bahwa bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia.
Lagu Indonesia Raya begitu fenomenal, hingga menggelorakan semangat rakyat. Ir. Soekarno memutuskan dalam setiap acara PNI selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan sikap berdiri dan hormat. Ir. Soekarno berkata bahwa lagu itu sudah menimbulkan rasa takut bagi pemerintah Hindia Belanda.
Koran Sin Po mencetak partitur lagu Indonesia Raya sebanyak 4.000 eks dengan harga jual 20 sen pada edisi Sabtu, 10 November 1928. Cetakan itu habis terjual dan dicetak lagi sebanyak 10.000 eks. Namun pada cetakan kedua sebanyak 10.00 eks ini disita oleh pemerintah Hindia Belanda. Dan W.R Supratman terus diawasi pergerakannya oleh agen PID (dinas intelijen pemerintah Hindia Belanda).
Sebuah perusahaan rekaman juga mencoba merekam lagu Indonesia Raya dalam piringan hitam, akan tetapi pemerintah Hindia Belanda dengan sigap memusnahkan piringan hitam tersebut. Tidak sampai di situ, beberapa kali Supratman ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Dalam penjara ia selalu disiksa atas hasil ciptaannya yang dianggap sebuah kejahatan menghasut rakyat. Tidak sampai di situ, lagu Indonesia Raya yang terlanjur tersebar dituduh sebagai hasil plagiat (jiplakan) dari sebuah lagu dari Belanda meski itu tidak terbukti.
Hingga pada tanggal 17 Agustus 1938, Wage Rudolf Supratman meninggal dunia karena sakit paru-paru yang dideritanya. Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1953, Presiden Soekarno menetapkan lagu Indonesia Raya bukan saja lagu perjuangan, tapi menjadi lagu kebangsaan. Bukan saja lagu kebangsaan, tetap pula menjadi lagu negara kita. (hal. 388)
Penggabungan antara reportase, biografi dan novel dalam Sang Penggesek Biola menjadikan pembaca larut dalam roman sang wartawan dan juga seorang komponis sambil membuka sejarah yang tak terungkap.


Penulis Resensi :
Danang Febriansyah, tergabung dalam FLP Wonogiri, mengenal banyak karya sastra di Sastra Alit Solo dan belajar menulis lebih jauh di #KampusFiksi Jogja. Beberapa karyanya berupa cerpen, puisi, non fiksi dan resensi pernah dibukukan dalam beberapa buku antologi dan media massa.
Buku kumpulan puisinya “Hujan Turun di Desa” terbit pada Agustus 2018. Kini bergerilya untuk Membudayakan Membaca dengan membuka taman baca di Bulukerto, Wonogiri dan bergabung bersama Forum Taman Baca Masyarakat (Forum TBM) Wonogiri.

Wednesday, September 26, 2018

MAKAM CAHAYA



http://floressastra.com/2018/09/25/makam-cahaya-cerpen-danang-febriansyah/

Julung belum pernah tahu bahwa di sana ada sebuah makam yang telah tertutup rimbun rumput berduri. Bukan hanya tidak terlihat, tapi makam itu adalah makam yang berbeda.

***
Semua penduduk harus menyerah saat ini. Karena kalau tidak, dialah yang harus menyerah nantinya. Makanya mulai dari sekarang, dia harus menyiapkan bukti kuat apabila di waktu kemudian terjadi sengketa dengan dari penduduk.

“Katakan pada mereka bahwa harga yang kita tawarkan jauh lebih baik daripada penghasilan mereka setahun ini!” seru Julung pada seseorang yang mengenakan peci agak miring yang duduk di depannya, mungkin itu bawahannya.

“Bukankah akan lebih baik kita membiarkan wilayah itu sebagai tempat yang tak tersentuh?” sanggah si peci miring.

“Wilayah itu menjorok ke lahan yang akan aku gunakan. Itu mengganggu. Lagipula, siapa yang mau membeli rumah yang bersebelahan dengan komplek kuburan?” Julung tersenyum sinis sambil menggaruk tompel di lehernya.

“Lalu?”

“Seperti yang kukatakan tadi, aku beli sekalian tanah kuburan itu. Dan pada saatnya nanti, lupakan bahwa tanah itu bekas kuburan.”

“Aku ada ide lain.”

“Kalau idemu menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat wisata religi, itu ide yang konyol. Atau jika idemu dengan memindahkan tulang-belulang ke tempat lain dimana tempat lain itu aku juga yang menyediakan, lupakan idemu itu. Aku tak mau mengeluarkan dana tambahan.”

Si Peci Miring terdiam. Majikannya itu seakan membaca ide yang akan disampaikannya. Padahal baginya ide itu yang paling realistis, tidak menyakiti semua pihak.

“Ka…kalau warga me…nolak?” Si Peci Miring tidak yakin, bicaranya tergagap.

“Kau tak dengar! Berikan harga yang tinggi!” Julung berdiri dan membentak, tidak sabar menghadapi bawahannya itu.

Si Peci Miring tersentak, tapi segera berusaha menguasai diri agar wibawanya masih terlihat. Kemudian menarik napas panjang, melonggarkan paru-parunya untuk menyiapkan diri mengungkapkan isi hatinya.

“Makam, bagi penduduk di sini artinya lebih dari sekedar daerah kematian. Makam memiliki arti lebih dari itu dan menjadi tempat peristirahatan keluarga mereka. Wilayah itu sama halnya dengan harga diri mereka. Siapapun yang mengusiknya, mereka akan bersatu untuk melawan.” Si Peci Miring menarik napas lagi. “Melunaklah sedikit,” sambungnya.

“Aku capek bicara sama kamu. Kamu kubayar mahal demi meyakinkan mereka, tapi kamu malah menyerah dari mereka.” Julung kembali duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi putar.

“Tapi…” sahut Si Peci Miring.

Dia mencondongkan tubuhnya ke depan lalu melotot dengan tajam membuat Si Peci Miring gentar. “Upahmu kutambah jika kamu mampu mewujudkan mauku ini. 3x lipat!” serunya menuntaskan kesabaran.

“Aku tidak menyerah,” sahut si Peci miring dengan suara yang tercekat. “Aku pastikan warga akan segera setuju,” lanjutnya setelah merasa tertantang dengan tawaran majikannya itu.

“Kuserahkan padamu dan pastikan warga menyetujuinya.” Julung kemudian bersandar lagi. “Bagaimanapun caranya!”

Baginya, masalah ini jangan sampai berlarut-larut. Kalau sampai tidak diselesaikan sekarang juga, dia khawatir kabar seperti ini menyebar kemana-mana dan proyek yang telah dibiayai dengan mahal ini tidak laku karena sudah banyak yang tahu latar belakangnya.

Proyek ini adalah salah satu ambisinya, impiannya dan tidak boleh gagal, kalau sampai gagal, maka dialah yang menyerah. Ini sudah terlanjur setengah jalan.

Ada rasa geram, berbagai pertanyan menggumpal di hatinya. Kenapa tanah kuburan itu ada di pinggir jalan? Kenapa bisa tanah kuburan letaknya strategis macam itu? kenapa juga persawahan yang dibelinya terdapat kuburan yang mengakibatkan bentuk batasnya tidak simetris? Sampai pada pertanyaan kenapa dia tidak membeli tanah yang lain saja?

Tanah kuburan yang tak seberapa besarnya, namun cukup mengganggu jika dibiarkan ada di sana. Maka daerah itu harus dilenyapkan. Dia tak mau gagal hanya gara-gara tanah itu. Kalau dia tidak mau menyerah, maka penduduklah yang harus menyerah. Menorehkan tanda tangan mereka pada kertas bermaterai yang telah dia siapkan.

***
Sesepuh desa akhirnya didatangi Si Peci Miring di rumahnya. Bagi Si Peci Miring, orang tua berambut keperakan itu harus diluluhkan lebih dulu. Jika sudah luluh, maka para penduduk seperti anjing penjaga. Setiap tindakan dan perkataan orang sepuh itu bagaikan sabda yang akan dipatuhi.

“Kita sudah tahu, dia bukan orang jauh, meski mayoritas penduduk tidak tahu. Maka saya mohon, katakan pada warga bahwa kuburan akan dibeli oleh pengusaha properti yang sudah maju. Harganya tinggi, bisa untuk beli rumah dan membeli tanah kuburan lain.” Si Peci Miring melobi dengan berapi-api.

Si Rambut Perak tersenyum manggut-manggut, mengisap rokok kelobotnya hingga pipi keriputnya mengempot lebih dalam.

“Orang yang sudah mati itu juga merasakan sakit. Bahkan lebih sakit daripada apa yang kita rasakan di sini. Apa kamu rela jasad bapakmu diotak-atik dan dipindahkan begitu saja?”

Si Peci Miring diam saja. Dia merasakan ketidakrelaannya saat harus memindahkan jasad bapaknya yang juga dikubur di tanah pemakaman desa itu. Tapi saat mengingat upah yang didapatnya untuk mendapatkan tanda tangan warga, juga upah atas ganti rugi tanah makam bapaknya yang cukup besar. Dia mengabaikan perasaan tidak relanya.

“Ini demi kemajuan desa kita. Akan banyak pengusaha-pengusaha properti yang masuk desa kita setelah ini, membeli tanah-tanah kita dan kita bisa mendapatkan uang yang melimpah. Mungkin bisa untuk beli mobil. Atau mungkin untuk membeli tanah di daerah lain. Bukankah itu akan membuat tingkat ekonomi penduduk lebih baik?”

“Pikiranmu seperti makanan jaman sekarang, cepat saji.” Si Rambut Perak tenang saja menjawab. “Begini saja, kamu datangi para warga dulu, baru yang terakhir aku. Kalau penduduk mau menyetujui hal yang kau iming-imingi itu, aku mengalah. Aku ikut mereka.”

“Tapi mana mungkin mereka mau, kalau sesepuh desanya belum tanda tangan?”

“Kalau tidak mau juga. Kembalilah pada bosmu itu. Suruh dia datang padaku, aku akan ajak dia jalan-jalan dan aku akan bicara padanya. Setelah itu baru aku akan tanda tangani kalau dia yang memintaku secara langsung. Lalu aku menjamin penduduk yang lain akan mengikuti.”

“Kalau dia tidak mau?”

“Katakan saja aku sebenarnya tahu siapa dia.”

Si Peci Miring gagal merayu sesepuh desa. Orang paling dituakan karena memang yang paling tua di desa itu. Usianya nyaris menyentuh satu abad. Dua kali lipat umur Julung atau majikan Si Peci Miring. Selama hampir seabad umurnya, orang tua itu tahu banyak tentang sejarah desa yang ditinggalinya ini. Termasuk sejak kapan jalan desa di aspal, dan siapa penghuni makam desa pertama kalinya. Makam desa yang ada sejak 50 tahun yang lalu.

Meski gagal, namun Si Peci Miring mendapatkan secercah harapan, bahwa keinginan majikannya tak akan lama lagi terwujud. Sesuai keinginan sesepuh desa yang juga menjabat ketua RW, Si Peci Miring kembali ke tempat majikannya untuk mengutarakan hal yang didengarnya.

“Bagaimana? Berhasil?” tanya Julung ketika Si Peci Miring datang. “Oh, wajahmu menunjukkan wajah yang gagal,” lanjutnya setelah membaca raut wajah Si Peci Miring.
“Aku memang gagal mendapatkan tanda tangan penduduk. Tapi aku mendapatkan kepastian dari sesepuh desa.” Si Peci Miring menjawab dengan wajah yang datar.

“Kepastian seperti apa?”

“Orang tua itu ingin anda temui. Dia akan mengajak anda bicara. Katanya, dia tahu siapa anda. Setelah itu dia akan menandatangi surat ini,” jawab Si Peci Miring sambil meletakkan kertas-kertas yang sudah ditempeli materai.

“Begitukah? Aku akan datang padanya.” Ada desir di hatinya ketika mendengar bahwa sesepuh desa tahu siapa dia, ini akan menjawab rasa penasarannya.

“Lalu upahku?”

“Kau berhasil hanya dalam beberapa bagian. Upahmu juga hanya sebagian saja.”

***
Julung mengikuti langkah sesepuh desa dengan perlahan, menyesuaikan dengan langkah orang tua yang lambat. Berjalan menuju tanah pemakaman desa.

Mereka masuk ke komplek kuburan, makin masuk ke dalam lalu berhenti di rimbunan rumput berduri. Sesepuh desa menyerahkan sabit yang dibawanya kepada Julung.

“Coba bersihkan rumput-rumput ini.” Sesepuh desa memberikan perintah.

Majikan Si Peci Miring menuruti saja. Apalagi ada harapan tersembul akan keberhasilannya menguasai tanah makam ini. Dibersihkannya rumput-rumput itu, tak jarang duri menggores tangan yang membuatnya gatal dan perih.

Sesepuh desa hanya sekali-sekali membantu membuang rumput-rumput berduri. Si Peci Miring melihat kegiatan itu dari balik sebuah pohon. Setelah sekitar setengah jam Julung berkutat dengan rumput-rumput itu, terlihatlah di balik rumput berduri yang dibersihkan ada sebuah kuburan dengan nisan batu yang dipenuhi lumut.

Majikan Si Peci Miring menyeka dahinya dari keringat yang membanjir. Dia melihat kuburan dengan nisan berlumut di depannya. Dia memandang sesepuh desa dengan wajah bertanya-tanya.

“Aku masih ingat lima puluh tahun yang lalu di desa ini setelah 40 hari bapakmu meninggal dunia. Ibumu pamit pergi ke kota untuk bekerja dengan membawamu yang masih bayi. Tiga bulan kemudian, dia mengirim surat bahwa dia akan pergi ke negara tetangga untuk bekerja sebagai pengasuh bayi dan meninggalkanmu di panti asuhan, juga meninggalkan alamat rumahnya di sini pada pengelola panti asuhan. Dalam surat itu, dia berpesan, jika dia tidak kembali dan kamu sudah besar lalu pulang ke desa ini, ibumu ingin kamu mengurus makam bapakmu ini.” Sesepuh desa sepertinya tidak kuat berdiri, lalu duduk di sebuah batu.

Dia serius mendengarkan. Ada pintu yang terbuka dari pertanyaan yang terkunci selama ini. Namun masih ada keraguan akan cerita orang tua itu. Bagaimana dia seolah tahu masa lalunya.

“Sepertinya ibumu memang tak kembali, kabarpun tak pernah ada hingga sekarang. Bapakmu meninggal karena kecelakaan kerja saat jadi buruh. Saat itu desa ini belum punya kuburan. Kalau ada yang meninggal, harus berjalan jauh ke desa lain. Maka diputuskan tanah ini digunakan untuk tanah pemakaman desa. Dan jasad bapakmu ini yang pertama kali menempatiya.” Sesepuh desa mengatur napasnya.

Julung termenung. Dia mengatupkan mulut. Si Peci Miring mendekat. Meski dia tahu silsilah para penduduk, tapi Si Peci Miring itu baru tahu sejarah tanah kuburan desa ini.

“Mungkin kamu bertanya bagaimana aku bisa tahu bahwa kamu ini bayi yang dulu dititipkan di panti asuhan ‘kan?” Sesepuh desa tersenyum, seakan tahu Julung akan bertanya. “Tanda lahir di leher kamu itu jawabannya.”

Julung menggaruk tompel di lehernya, Si Peci Miring mengamati tompel itu.

“Sekarang terserah kamu. Aku sudah lega menyampaikan wasiat ibumu agar kamu mengurus baik-baik kuburan bapakmu ini. Semoga kau baik-baik juga dalam memutuskan sesuatu. Karena bagaimanapun juga kita akan mati.”

Sang Majikan merasa lulutnya lunglai, lalu tak sadar bersimpuh di tanah kuburan itu. Pertanyaan dalam hidupnya tentang silsilah keluarganya terjawab hari ini. Dia seakan mendapatkan cahaya dari kalimat sesepuh desa. Tangis di hatinya berderai-derai, ada penyesalan di hati.

“Ketika tanah kuburan di kota sudah dikontrakkan dan dijual. Di sini masih luas dan gratis,” lanjut sesepuh desa. “Aku tak ingin kuburan-kuburan menjadi urusan bisnis.”

“Lupakan tanda tangan warga.” Bergetar suara Julung memerintahkan pada Si Peci Miring, tapi yang diperintah hanya diam seperti tak mendengar.

“Kamu dengar perintahnya, Pak Lurah?” tanya sesepuh desa pada Si Peci Miring.

Si Peci Miring tergagap, “iya, iya.”

Sesepuh desa kemudian pergi meninggalkan Julung dan Pak Lurah dengan senyum puas. Julung membersihkan lumut yang menutupi batu nisan. Lalu terbacalah sebuah nama di batu nisan itu.

Danang Febriansyahtergabung dalam Forum TBM Wonogiri. Belajar menulis dan makin kenal banyak karya sastra di Komunitas Sastra Alit Solo