Tuesday, November 18, 2014

REVIEW : MENGEMAS KENANGAN (YUDITEHA & LUSI KRISTIANA)

Cover "Mengemas Kenangan"
MENGEMAS KENANGAN DENGAN INDAH
Judul               : Mengemas Kenangan
Jenis Buku       : Antologi Puisi
Pengarang       : Yuditeha & Lusi Kristiana
ISBN               : 978-602-0947-03-7
Tahun terbit     : Cetakan Pertama, Oktober 2014
Tebal               : 100 Halaman
Penerbit           : Bukutujju

Mengenang sesuatu dan mengemasnya dalam ruang hati yang khusus menjadi sebuah kenikmatan tersendiri. Ada air mata yang tumpah saat melihat foto penuh kenangan. Dalam diam melamun pun ada yang terlintas untuk dikenang. Dalam kesibukan pekerjaanlah kenangan-kenangan yang mengumbar air mata itu dapat dikendalikan, karena dalam menganggur segalanya bisa bermunculan. Lalu hanya doa yang terlantun agar semua kenangan itu dapat mengajarkan untuk bisa menjalani hidup dengan lebih baik.

Dalam kutipan puisi Lusi Kristiana yang judulnya diambil untuk judul buku antologi puisi ini, “Mengemas Kenangan”, penulis yang juga seorang guru dan barista handal ini menuliskannya sebagai berikut :
Apa yang ingin kau pisahkan
dari foto-foto manis
kenangan ini
mungkin tak seperti ketabahan sunyi
yang aku pinjam
untuk mengasuh air mataku
           
Tentang kenangan ini juga melahirkan rasa pedih dan seakan lupa pada masa lalu karena perubahan yang terjadi. Hal ini terungkap pada puisi Yuditeha (penulis novel Komodo Inside) yang berjudul “Kenangan” :
Sejak kapan kuraih mimpi itu?
Aku lupa.
Pertemuan itu telah menusukku.
Perih.
Pada sukma yang tergambar
Di jantungku.

            Antologi puisi ini adalah duet dua orang penulis sekaligus penyair yang tulisannya sudah malang melintang menjelajahi nusantara, Yuditeha dan Lusi Kristiana menuangkannya secara apik mulai dari hubungan antar manusia, tentang cinta, tragedi, bencana. Tentang agama dan ketuhanan juga tentang rasa kagumnya pada penulis terdahulu. Seperti sebuah nama “Pram” yang ditulis dalam sebuah bait, bisa jadi itu adalah Pramoedya Ananta Toer, sebab kata setelahya ditulis “akan bebas” yang kita tahu Pram adalah penulis hebat yang juga mantan tapol. Berikut kutipan dari puisi Yuditeha yang bertajuk “Sejarah” :
Berbeda satu jam sesudahnya.
Aku tertidur di senja hari, pipis lalu lelap lagi
dan kembali pulang setelah pidato kedua.
Semuanya sudah pasti tadi pagi.
Pram akan bebas.
Setelah semuanya membaca
masa lalu yang tak sia-sia.

Tidak hanya itu, adanya manusia di dunia ini pasti karena Kuasa Tuhan, Lusi Kristiana rupaya cukup religius. Puisi-puisinya sering yang menyangkut cinta pada Tuhan. Contoh kecil pada “Melati di Barisan Pohon Pinus”, dia menulis :
Wahai semesta cinta kasih
Curahkan cahaya cinta-Mu
Menerangi kegelapan ranah hidupnya.

Pada sisi yang lain, antologi puisi ini juga mengetengahkan rasa prihatinnya pada bencana yang menerpa tanah air ini. Dalam “Musibah”, Yuditeha membaca bencana banjir yang menerjang, di puisi ini, dia juga menuliskan ironi dalam musibah yang datang, dengan menyentil pembuat video tentang bencana ini.
Hujan telanjang melahap daratan.
Hingga malam memanggilmu.
Tapi kau malah pergi ke berjuta-juta mata
Menciptakan video.

Tak hanya itu, banyak lagi tema-tema kehidupan dan keluarga. Tentang orang tua, kadang mengkhususkan tentang ayah dan tentang anak. Juga hak-hak hidup kita sebagai manusia dan warga negara yang semua bermuara pada kehidupan.
Sejatinya antologi puisi ini bukan duet, dua orang yang mencipta satu puisi, tapi dua orang yang menggabungkan karya-karya mereka dalam sebuah buku. Meski sederhana, tapi dua penulis ini mampu membuka mata bahwa kita tak bisa lepas dari sebuah kenangan. Mereka mampu meluaskan makna kata, tanpa ada kata yang sia-sia. Karenanya, semua kenangan tersebut telah dikemas dengan indah.


Penulis Resensi : Danang Febriansyah

Monday, October 27, 2014

BEGINI JUGA, SAYA PUNYA KARYA

Perjalanan Karya +/- April 2007, Maret 2014, Juni 2014, Juni 2014

Buku pertama saya yang pernah dipublikasikan adalah Antologi Cerpen Joglo 4 : Cerpenis Terpilih pada tahun 2007.
Lama vakum menulis, akhirnya pada Maret 2014, cerpen saya masuk antologi lagi dalam Love Never Fails #3 yang diterbitkan oleh nulisbuku.com.
Kemudian Juni 2014 dua cerpen saya masuk dalam dua buku antologi, yaitu Joglo 15 : Botol-botol Berisi Senja oleh Taman Budaya Jawa Tengah dan Temukan Warna HIjau yang diterbitkan Elex Media Komputindo.
Insya Allah pada Januari 2015, 3 karya puisi saya dibukukan dalam antologi puisi Luka-luka Bangsa yang diterbitkan oleh Pangaro Media Utama Jogja.
Ketika menulis sudah menjadi perbuatan yang saya sukai, apresiasi terhadap karya sayapun menjadi kebanggaan tersendiri.
Harapan kedepan, saya akan mempunyai buku sendiri dalam rak best seller di seluruh toko buku. Amiin :-)

Thursday, September 11, 2014

ANTOLOGI CERPEN www.nulisbuku.com "LOVE NEVER FAILS #3"

Cover Antologi Cerpen Love Never Fails
Cover Buku Antologi Cerpen Love Never Fails
Februari 2014 saya coba mengirim salah satu cerpen saya untuk ikut lomba menulis cerpen di nulisbuku.com tanpa bermimpi menjadi pemenang, karena tahu pesertanya pasti akan sangat banyak dan pasti banyak karya yang lebih baik dari tulisan saya.
Langsung saja dengan percaya diri saya kirim cerpen saya PAGAR AYU dengan tema yang telah ditentukan www.nulisbuku.com, LOVE NEVER FAILS. Kemudian saya twit sinopsisnya di @nulisbuku Nothing to loose, menang sykur, tidak menang juga tidak masalah. Tapi ada ketentuan kalau ada cerpen yang layak dibukukan tapi bukan pemenang, maka akan dibukukan di nulisbuku.com.
Benar saja, peserta membludak hingga 1.100 cerpen masuk di situ, "wah, banyak banget," pikirku dan ngambang begitu saja. Saya hanya menikmati proses ini, tidak mempedulikan hasil, menang atau kalah, hal biasa, saya tidak ambisi untuk jadi yang terbaik, tapi saya selalu berusaha untuk menjadi lebih baik.
"Wow, cerpen saya masuk," bangga dan senang sekali, meski bukan pemenang, tapi teryata cerpen saya sudah layak diapresiasi dan dibukukan. Dalam buku antologi Love Never Fails, cerpen saya ada di buku #3. Dari seribuan peserta, saya masuk kategori yang bisa dibukukan. Alhamdulillah...Sebulan kemudian (Maret 2014), saya buka email, disitu ada email dari nulisbuku yang berisi pengumuman pemanang. Pemenang 1, 2 dan 3 tidak ada namaku. Memang tidak ambisi menang, saya sih tidak down. Biasa saja. Kemudian saya baca karya-karya yang layakdibukukan dan..
Tampilan Cover Love Never Fails #3

Allah tahu doa saya, saya ingin jadi penulis. Ini langkah saya ya Allah, wujudkan mimpi saya. Amiin.


Monday, September 1, 2014

DIBALIK CERPEN MAJALAH SERAMBI AL-MUAYYAD : BENING

BENING - SERAMBI SEP 2013


Setelah di Majalah Hadila, saya kembali mengirim cerpen untuk Majalah Serambi Al-Muayyad, sebuah majalah intern Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta. Cerpen lama saya coba kirim melalui email. Cerpen dengan judul Bening saya tulis atas inspirasi dari kalimat yang diucapkan oleh seorang penulis Donatus .A Nugroho "Tapi, siapa yang berani mencemburui Tuhan?" Dan berdasarkan kisah nyata yang pernah terjadi. Dari gabungan kedua ide itu, maka jadilah cerpen ini.
Kalimat tersebut saya anggap unik dan tentu saja menggelitik untuk saya kembangkan menjadi sebuah cerpen. Lalu cerpen inipun mendapat sambutan yang bagus pada saat acara Bahas Karya di FLP Soloraya yang dibedah oleh Komunitas Sastra Sketsa Kata, karena openingnya cukup menghentak.
Saya yakin kalau cerpen ini akan dimuat di majalah ini. Dan keyakinan saya pun terbukti dengan iringan sebuah kalimah Alhamdulillahirobbil 'alamiin. Pesan yang ingin saya sampaikan di cerpen ini adalah pacaran bukanlah sebuah jalan, namun mencintai Tuhan adalah yang utama.